My Graduation is My ‘Mom’ Funeral

My Graduation is My ‘Mom’ Funeral

Nothing special!! Itulah yang kurasakan. Entah mengapa, sejak Mei 2008, tepatnya pasca ujian pendadaran tidak ada kebahagian menyeruak dalam dada perihal ceremonial bernama wisuda. Bersyukur sih iya, hanya saja euphoria tidak singgah lama dalam hati ini.

Ibu pogung sakit!! Perempuan berusia 70 tahun yang telah mengorbankan hari-harinya demi merawatku itu kini tergolek tak berdaya.

Miftah kecil, kala itu berumur 3 bulan. Dititipkan kepada kakak tertua bapak di sebuah desa bernama pogung lor. Alhasil, panggilan ibu tidak hanya berlaku pada ibu kandungku, tetapi juga pada ‘bude’ ku itu. Ibu pogung, begitulah aku memanggilnya. Beliau memang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Budeku itu kebetulan tidak memiliki putera, sehingga keponakan-keponakannya lah yang meramaikan rumahnya. Pakde (suami bude) sudah meninggal sejak aku kelas 1 SMA.

Awal Agustus 2008, Alhamdulillah akhirnya beliau berkenan juga dirujuk ke rumah sakit setelah tergolek lemah dirumah dengan perawatan yang terbatas. Jogja International Hospital (JIH) menjadi pilihan bude. Pagi itu juga, kuurus semua administrasi rumah sakit. Mulai dari mengantar ke JIH sampai dengan reserve kamar. Kutelepon ibuku untuk segera menyusul ke rumah sakit. Siangnya beberapa kerabat mulai berdatangan silih berganti hingga 1 pekan berikutnya.

Alhamdulillah pekan kedua Agustus 2008 bude sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dr Karina sudah acc memperbolehkan pulang. Makasih dok..soalnya budeku sudah tidak betah di rumah sakit (batinku). Sejak sepulang dari rumah sakit ternyata tidak memberikan efek yang baik untuk bude. Mungkin hanya rasa nyaman sudah kembali ke rumah yang beliau rasakan. Semoga rasa nyaman itu dapat membuatnya lekas baikan, pikirku kala itu. Silih berganti kerabat ku menunggui bude. Maklumlah, gelar aktivis masih kusandang saat itu sehingga tidak memungkinkan untuk dapat stay at home 24 hour. Alhasil jadwal jaga bak perawat di rumah sakit tercipta. Hari senin, jadwalnya bude A dan mbak B, selasa pakde C dan mas D dan seterusnya…

Pekan ketiga dan akhirnya pekan ke empat Agustus, kondisi bude semakin lemah. Segala sesuatu dilakukan di atas tempat tidur, kecuali mandi. Untuk mandi pun harus digendong dan dimandikan. Sungguh bukan seperti budeku yang kukenal. Budeku yang biasanya selalu nampak perkasa dan seolah tidak kenal lelah. Selalu sibuk!! Tidak pernah diam. Begitulah..dan terkadang aku malu dan iri karena semangatnya.

27 Agustus 2008, the day of my graduation.

Pagi-pagi sekali aku sudah dijemput oleh mas min. Mas min driver keluarga kami sekaligus guru driving ku…

Hari itu..no kebaya, no make up. Just gamis and toga. Simpel banget, dan itu yang kuinginkan. Dalam hati, sejujurnya tak tega juga meninggalkan bude yang semakin lemah itu. Dirinya bahkan sudah tidak merespon kami, bahkan ketika kusuapi beliau tidak meresponnya. So sad…

Graha Sabha Pramana (GSP) sudah penuh sesak oleh ribuan orang. But…tetap saja nothing special…

Aura GSP masih terkesan biasa saja bagiku, walau mungkin bagi sebagian besar orang merupakan tempat yang bersejarah saat itu. Akhirnya, sesi demi sesi terlewati sudah, dan saatnya untuk syukuran di kampus peternakan. Uluran ucapan selamat mengalir dari rekan-rekan, adik angkatan, dan juga dosenku. But…pikiranku masih ada dirumah. Ya!! Apa kabar bude di rumah ? Tenang mift…Allah adalah sebaik-baik penjaga kok…

Sungguh graduation ceremony ini tidak memberikan kesan mendalam bagiku. Semuanya serba biasa saja.

Alhamdulillah sore itu, sampai juga akhirnya di rumah. Ramai, begitulah kondisi rumah. Bersyukur sekali rasanya punya kerabat dan tetangga yang teramat peduli dengan budeku. Mereka menunggui dan merawat bude.

Sore telah berganti malam…

Pukul 22.00, pintu diketuk oleh seseorang. Ternyata jamaah masjid Al Kariim Pogung Lor, hendak Yasinan dirumah. Dan malam itu, rumah kami penuh dengan lantunan doa dan dzikir walau tidak ada respon sama sekali dari bude.

28 Agustus 2008, the day of my ‘mom’ funeral

Ba’da shubuh ibuku pulang karena mengajar pagi.

I’m alone…just dengan bude yang lemah dan mas par. Mas par adalah khadimat kami untuk mengurus kebun dll.

Pagi itu tiba-tiba mas par panik, sembari memanggil-manggilku. Senada dengan mas par, aku juga panik ketika melihat kubangan darah ditempat tidur bude. Bude bleeding !! Kusuruh mas par untuk memanggil mbak min (tetanggaku) yang sehari-hari membantuku mengurus bude. Sembari menunggu mbak min datang, kubersihkan kubangan darah itu. Sangat banyak, anyir dan busuk baunya. Pasti pendarahan di lambung bude yang luka, pikirku. Alhamdulillah, mbak min datang. Dengan sigap beliau membantuku mengganti baju bude. Ku lap bagian-bagian tubuh bude yang penuh darah dan tak terasa, air mata ini menetes juga. Sungguh aku tidak tega melihatnya…

Kutelepon ibu dan bapak untuk segera datang, barangkali beliau berdua punya solusi.

Selesainya mengganti baju, pampers, dan lainnya mas par menggendong bude ke kamar dan tempat tidur yang baru. Kucoba berinteraksi dengan bude…tetapi tetap saja tidak ada respon. Kusuapi susu, dan Alhamdulillah beliau masih dapat menelan dengan lembut, walau tanpa respon. Kucoba lagi untuk mengajaknya berdzikir dan Alhamdu
lillah sepertinya beliau merespon dengan gerakan bibir, walau matanya tetap terpejam. Lagi, dan lagi kucoba mengajaknya ber istighfar. Kudengar, nafas bude mulai berat dan agak tersengal. Seperti orang mengorok. Tapi entahlah…kutepis pikiranku yang mulai macam-macam.

Ibu dan bapak akhirnya datang…Ibuku langsung muntah karena tidak kuat dengan bau busuk darah yang masih terasa itu. Akhirnya…ibuku menggantikanku menjaga bude dan aku mencuci semua kain yang penuh dengan darah itu. Ada speri, baju, jarik, dll. Kucoba untuk kuat menahan bau itu…Bismillah…ini adalah bentuk birrul walidain mu mift…

Ibuku masih muntah-muntah di kamar mandi. Akhirnya, bapak yang menjaga bude. Mas par sudah sibuk dengan kerjaannya di kebun depan rumah, menyapu dll, sedangkan aku masih mencuci kain-kain bude yang terkena darah tadi. Tak beberapa lama, bapak berteriak memanggil-manggil nama bude.

Yu..mbakyu…yu..teriaknya. Secepat kilat kutuju kamar bude. Kulihat bapak agak gemetar sembari memanggil nama bude dan menempelkan tangan didepan hidung bude. Kuikuti apa yang dilakukan bapak, dan benar…tidak ada lagi hembusan nafas. Tapi badan bude masih anget. Aku berlari menuju rumah tetanggaku yang takmir masjid, dan kebetulan putrinya seorang apoteker. Kusuruh mereka ke rumah, dan benar…Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Bude sudah diambil kembali oleh Sang Pencipta.

Tangis ini pecah juga…hanya sebentar memang, dan tangis ini kembali pecah ketika kuingat wajah tirusnya…sampai saat ini.

27 Agustus 2008, my graduation

28 Agustus 2008, my mom / bude funeral

Genap 4 tahun sudah aku dan engkau tinggal berdua, dan selama itu juga engkau menemaniku menempuh pendidikan sarjana. Bahkan menungguiku sampai aku wisuda, barulah engkau pergi untuk selamanya…

ibu pogungku… miss u much…