Gelar pilihan sebelum gelar ‘terpilihkan’

Jika boleh memilih, saya menginginkan beberapa gelar di bawah ini untuk bersanding dengan nama saya, here it is



Prof. Mifta Pratiwi Rachman, S.Pt., M.Biotech., Ph.D.


Itu adalah gelar pilihan saya yang insya Allah sedang di ikhtiarkan untuk diwujudkan setelah melewati serangkaian ujian demi ujian tentunya. Mari kita ‘amin-kan’ bersama-sama . Dua gelar setelah nama saya insya Allah telah diikhtiarkan. Prof dan PhD nya semoga bisa menyusul as soon as possible, sebelum gelar yang ‘terpilihkan’ tersemat di depan nama saya, here it is


Almh. Mifta Pratiwi Rachman

Itu adalah gelar abadi, sepanjang hayat dan pasti tersemat di depan nama saya. Semoga gelar tersebut saya dapatkan setelah mengikuti serangkaian ujian kehidupan dengan sebaik-baiknya dan lulus dengan predikat khusnul khatimah. Saya doakan, anda pun juga begitu. Amin.

Tulisan ini tidak diniatkan untuk menakuti, melainkan hanya ingin memotivasi dan mempersiapkan diri menggapai gelar pilihan dan gelar ‘terpilihkan’ tersebut.


Mifta P Rachman
M.P.R 2011



picture taken from here




Dear mom

Dear Mom,


Mom, i have been thinking over my duties as an oldest children. I hope you will not grow angry with me if I slip in some of my own private thoughts. I know this is not customary, but as I get older and inherit more responsibilities, I’m finding my self in need of guidance, Mom. You were wise and just in your life. If I cannot be the best daughter, I hope you will help me to become your most dutiful daughter. If you ever become unhappy with this arrangement, I hope you will let me know. Forgive me for being so talkative Mom, I relize, I have to do something ‘precious’ for you, and I think, this is the ‘first’, Mom.

I love you Mom
Mifta Pratiwi Rachman
(M.P.R, Feb 2011)
in the middle of thunder storming & hard raining in jogja


















picture taken from here




Hal-hal yang merusak jiwa

Hal-hal yang merusak jiwa

* Rangkuman Kajian Jelajah Hati : Ust Syatori AR (Ponpes Mahasiswi Darush Shalihat Jogjakarta)

Jiwa adalah karunia Allah, yang pada awalnya Allah ciptakan begitu sempurna untuk manusia.

Dimanakah jiwa itu sekarang? Jiwa berada dalam raga kita.

Allah sampaikan demikian dalam sumpah-Nya:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

Demi jiwa (dengan) segala penyempurnaannya (Q.S. Asy Syams: 7)

Allah tidak pernah bersumpah dengan raga manusia, tetapi dengan jiwa manusia. Tidak pernah Allah menyebut “Demi hidung” atau “demi kaki” atau “demi otak”. Hal ini berarti Allah benar-benar menaruh perhatian khusus bagi jiwa manusia. Kita lebih sering melihat orang lain dari fisik atau raganya dulu. Berbeda dengan Allah yang melihat manusia hanya dari jiwanya saja. Mari melihat jiwa. Jiwa yang utuh akan membuat kita memandang kehidupan secara utuh. Mari kita lihat apakah jiwa kita utuh atau tidak.

Apa yang kita rasakan jika terjadi perbedaan pendapat? Orang yang jiwanya utuh, akan melihat perbedaan pendapat seperti sarana tuk saling menguatkan. Misal, ada perbedaan pendapat:

1: Jadilah pohon pisang: pantang mati sebelum mengeluarkan buah.

2: Jangan seperti pohon pisang: berbuah Cuma sekali dalam hidupnya.

Mana yang benar? Dua-duanya benar. Maka jiwa yang utuh melihat perbedaan pendapat dengan bijaksana dan dengan bingkai yang lebih menyeluruh.

Apa yang kita pahami tentang hidup?

Coba jawab dengan tepat. Apakah kita berpikir lama untuk menjawab?

Seorang ibu penjual gudeg jika ditanya, apa yang ibu pahami tentang gudeg?

Tentunya sang ibu akan menjawab dengan cepat, tepat, dan begitu panjang.

Sekarang, jika kita tanya kembali pada diri kita, apa yang kita pahami tentang hidup?

Lancarkah kita menjawab? Jika jawaban kita begitu lama dan bingung, jangan-jangan sebenarnya kita belum memahami esensi dari hidup itu sendiri? Jangan-jangan kita hanya memahami hidup bahwasannya hanya berdasar raga ini saja. Padahal pemahaman ini sangat berbahaya.

Misalkan seperti ini, Ketika kita shalat, bisa jadi shalat hanya persoalan gerakan raga dan bukan pekerjaan jiwa. Pernah dalam sebuah taklim guru besar, dijelaskan tentang keutamaan shalat awal waktu. Saat usai dijelaskan, salah seorang guru besar bertanya “pak ustadz, kalau seandainya saya ada janjian dengan mahasiswa untuk bimbingan disertasi antara waktu jam 12-15. Jika jam 14.30 itu mahasiswa itu baru datang, tentunya saya tidak akan menyalahkan dia. Bukankah shalat juga seperti itu? Kalau dzuhur antara jam 12-15, maka bukankah tidak salah jika saya shalat jam 14?”

Pertanyaan ini, kita melihat bahwa shalat hanya dipahami sebagai pekerjaan raga. Padahal dalam shalat tidak hanya unsur fiqih (aturan-aturan), tetapi juga ada akhlaknya. Mereka yang menganggap shalat itu pekerjaan raga (saja) menjadikan shalat hanyalah pekerjaan “numpang lewat”.

Mari pahami hidup. Hidup itu keseluruhannya adalah kebaikan. Inilah bagian dari kaidah hidup. Bahwa hidup tak hanya ada pada raga tetapi juga jiwa. Bahwa hidup keseluruhannya adalah kebaikan.

Tetapi bukankah ada keburukan? Keburukan yang ada pun ada kebaikan di dalamnya.

Bagaimana bisa?

Yakni dengan meninggalkan keburukan, bukankah akan lahir kebaikan dalam diri kita? Kebaikan yang luar biasa.

Orang-orang yang jiwanya utuh,

Menjadikan hidupnya sebagai hamparan kesempatan untuk melakukan kebaikan (saja).

Mereka yang jiwanya tak utuh, Menjadikan hidupnya sebagai hamparan kesempatan untuk melakukan kebaikan dan atau melakukan keburukan.

Orang yg jiwanya utuh, Ibarat menuangkan air ke dalam gelas yang utuh. Bukankah kita bisa menuangkan air dengan tenang, karena kita yakin gelas tersebut itu utuh, tidak pecah, tidak retak.

Orang yang jiwanya utuh, Maka apapun yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami dalam hidup, selalu menjadi inspirasi untuk berbuat kebaikan.

Apa yang harus kita perbuat agar jiwa ini utuh?

Allah adalah Maha Segala-galanya. Menciptakan manusia dengan jiwa yang sempurna. Dan Allah telah pula menciptakan mekanisme agar manusia bisa menjaga keutuhan jiwanya.

Hidup adalah perjalanan, Mari kita pahami logika perjalanan. Bukankah ketika melakukan perjalanan berarti ada yang kita tinggal dan ada yang kita tuju. Maka apa yang sebenarnya sedang kita tuju dan apa yang sedang kita tinggalkan?

Faktanya, mereka yang utuh jiwanya, Sedang melakukan perjalanan dari kesenangan dunia menuju kesenangan akhirat. Meninggalkan kesenangan dunia bukan berarti kesengsaraan, karena Allah akan menggantikannya dengan kesenangan akhirat.

Bukankah sama-sama senang? Yang berbeda hanya dunia atau akhiranya saja. Dan tidak akan sampai kita pada kesenangan akhirat jika kita masing senang akan dunia. Ibaratnya kita sedang di jogja mau ke jakarta, hal yang mustahil kita sampai jakarta sedangkan kita masih di jogja.

Mari kita tes diri kita, sampai sejauh mana perjalanan sudah kita tempuh. Jika kita masih mementingkan nonton bola dibanding shola t malam, maka bisa diartikan kehidupan kita masih jalan di tempat. Belum sampai pada kesenangan akhirat.

Berarti kita ga boleh mengumpulkan harta?

Harta adalah bagian dari dunia. Namun bisa kita gunakan untuk kesenangan akhirat. Bukankah yang menjadi titik persoalan adalah “kesenangan”nya, bukan “harta”nya. Maka bersedekah 1 juta lebih terasa nikmatnya dibanding bersenang-senang dengan membeli baju 1 juta.

Membaca Al Quran lebih nikmat dibanding membaca komik.

Maka, Jadikanlah dunia yang kita cintai untuk mengejar surga. Yang cinta ini membuatkita semakin merindu surga. Bukan cinta pada kesenangan dunia, tetapi cinta pada dunia, cinta pada harta, cinta pada uang. Yang dengan harta atau uang yang banyak bisa membuat kita bersedekah sebanyak-banyaknya.

Adapun jiwa-jiwa yang pecah, akan memandang hidup ini sebagai kesempatan untuk berbuat keburukan. Jiwa yang rusak memiliki 3 indikasi yakni :

  • Dhulmun : lebih mengutamakan-mendahulukan kesenangan dunia daripada kesenangan akhirat. Mereka berbuat lebih karena “ingin” bukan karena “butuh”. Membeli baju karena ingin, melihat lawan jenis hanya karena ingin, berinternet hanya karena ingin.

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَ : Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi (Q.S Al A’la: 16).

  • Ananiyyun: memandang diri sebagai sosok yang istimewa dan diistimewakan. Merasa susah jika kebagian duduk di belakang. Merasa kesal jika tidak disapa. Merasa menjadi sosok yang harus dihormati.
  • Jahlun: bersahabat dengan sikap dan perbuatan yang tidak mencerahkan hidup di akhirat. Nonton bola, baca komik, tentunya bukan contoh perbuatan yang mencerahkan akhirat kita.

picture taken from here

DNA

Model DNA
  1. DNA untai ganda (double strand) tersusun atas dua untai DNA yang komplementer dengan orientasi yang berlawanan.
  2. Kedua untai diikat oleh jembatan (ikatan ) hidrogen, antara basa-basa DNA, yaitu A dengan T, dan C dengan G. Ikatan antara C dengan G lebih kuat (tiga ikatan H) daripada antara A dengan T(dua ikatan H).
  3. Gula deoksiribosa berperanan sebagai kerangka dasar (backbone). Antara satu nukleotida dengan nukleotida lain dihubungkan oleh ikatan phosphodiester.
  4. Struktur DNA untai ganda membentuk heliks.


Gelas-gelas cantik, isilah dengan yang terbaik

Pernahkan kita berfikir, mengapa kita tidak suka sayur, mual jika minum susu, sulit bangun pagi, tidak teratur, atau tidak juga pandai memasak walau sudah berumah-tangga, dan lain sebagainya. Jika kita runut dari jaman kita kecil, pastilah jawabannya karena kita tidak terbiasa dan tidak dibiasakan oleh orang-tua kita berhubungan dengan hal-hal tersebut. Kebiasaan baik maupun buruk akan tertanam sedari kita masih kecil dan akhirnya akan terbawa sampai dewasa.

Jika boleh saya analogikan, kita ini ibarat macam-macam gelas yang diusahakan dibuat dari bahan terbaik dan akhirnya tampil menjadi sebuah gelas yang cantik, bening, dan kokoh. Namun sayang, dalam perjalanannya ‘mungkin’ saja kita sebagai gelas akan diisi dengan isian yang ‘kurang baik’ oleh orang-orang di sekeliling kita (misal : orang tua). Alhasil, kebiasaan-kebiasaan baik dapat terkikis pelan-pelan. Sebagai contoh ketika kita tidak suka sayuran atau ‘eneg’ jika minum susu, bahkan selama ini belum bisa bangun pagi atau belum bisa memasak, bisa jadi adalah ‘efek’ secara tidak langsung dari isian yang ‘kurang baik’ itu tadi. Kira-kira mana ‘gelas’ kita dan ‘gelas’ mana yang kita ‘pilih’ untuk anak-anak kita.


Gelas Martini


Gelas ini cantik bukan, isinya pun menarik warnanya. Sayangnya, tak jarang minuman ‘haram’ mengisi ruang kerucutnya itu. Pub, club-club, dan tempat hiburan malam tak pernah absen memakainya.


Gelas kopi/teh

Gelas/cangkir ini terlihat lebih sederhana. Ruangannya mungkin lebih lebar dari martini. Kopi dan teh selalu memenuhi ruangan bulatnya. Caffein yang terkandung di dalamnya bukankah memiliki efek yang kurang baik ? Dan akhirnya menyisakan noda merah-kehitaman di setiap sisinya.


Gelas susu/air putih


Gelas ini bening dan tinggi. Muatannya pasti lebih banyak dibanding dua gelas di atas. Dan coba lihat apa isinya. Kalu tidak susu, ya air putih. Keduanya bukankah tergolong minuman yang menyehatkan ?



Terserah gelas mana yang akan dipilih, yang jelas selalu isilah gelas-gelas tersebut dengan isian yang terbaik. Isilah anak-anak kita dengan kata-kata hikmah setiap hari, masukkan kebiasaan-kebiasaan baik sedari ia kecil, tuangkan kucuran ilmu-ilmu agama agar ia kian kokoh, pilihkan ia tempat berdiri yang terbaik, dan terakhir jagalah ia agak tak ‘retak’, sebelum Sang Pemilik menjemput kita atau bahkan mengambilnya (lebih dulu).

************************************



* in a great desire becoming mom.
Mifta P Rachman
M.P.R Feb 2011

Several features and differences between transcription mechanism in prokaryotic and eukaryotic organism

TAKE HOME PAPER

MOLECULAR GENETIC

SEVERAL FEATURES AND DIFFERENCES BETWEEN TRANSCRIPTION MECHANISM IN PROKARYOTIC AND EUKARYOTIC ORGANISM

By :

Mifta Pratiwi Rachman

Lecturer :

Prof. Triwibowo Yuwono, Ph.D

BIOTECHNOLOGY STUDY PROGRAMME

GADJAH MADA UNIVERSITY

YOGYAKARTA

 

*************************************

 

Transcription in Prokaryotic

RNA polymerase in prokaryotes is made up of five subunits: two alpha subunits, one beta subunit, one beta prime subunit, and one sigma subunit. This configuration is called the RNA polymerase holoenzyme. The whole enzyme has a molecular weight of about 500,000. Of the various subunits, the beta and beta prime subunits are most important for catalytic activity; the sigma subunit is involved in regulation of transcription. Transcription consists of three basic steps: initiation, elongation, and termination. Each of these steps will be considered in turn.

Initiation. Initiation involves recognition of the promoter by RNA polymerase. Bacterial promoters generally contain two important DNA sequences that are involved in regulation of transcription. One of these is found at the -10 position (ten base pairs upstream of the transcription start site) and has the sequence TATAAT; the other is found at -35 and has the sequence TTGACA. RNA polymerase binds to DNA, and scans along the DNA until it encounters a promoter. The sigma subunit recognizes the -35 sequence, and causes the polymerase to bind more tightly. The sigma subunit separates from the polymerase complex, leaving a four subunit core enzyme. The DNA unwinds at the -10 sequence, because that sequence is A/T-rich, and A-T base pairs are weaker than G-C base pairs. The unwound region is known as a transcription bubble, and averages about 18 bp in length. RNA polymerase now begins synthesizing RNA at the appropriate position on the gene.

Elongation. Elongation is much like DNA replication: nucleotides are attached to the 3′ end of the growing RNA chain, by the formation of a phosphodiester bond between the 5′ phosphate of the incoming nucleotide and the 3′ hydroxyl at the end of the RNA chain. There is one major difference between transcription and replication, however. In DNA replication, both DNA strands serve as templates for the synthesis of new DNA. In contrast, only one of the two DNA strands serves as a template for transcription. For a particular gene, it will always be the same strand that serves as a template. This strand is known as the template strand. The other strand, which never serves as a template, is called the non-template or partner strand. As synthesis continues, a transient RNA-DNA hybrid duplex is formed, but the RNA quickly dissociates from the DNA, so that only a few RNA-DNA base pairs are present at a given time. As the polymerase proceeds along the gene, the DNA rewinds itself behind the enzyme. As a result, the transcription bubble appears to move along the gene with the polymerase.

Termination. Termination occurs when the RNA polymerase encounters a termination signal in the gene. Prokaryotic genes have two kinds of termination: rho-independent termination and rho-dependent termination depending on whether termination requires the action of a terminator protein called rho. Each type of termination has a different termination signal in the gene. For rho-independent termination, there is a G/C-rich stretch of nucleotides, followed by an A/T-rich stretch of nucleotides. When the G/C-rich stretch is transcribed into RNA, the sequence of the nucleotides is such that the RNA molecule forms a short double-stranded region called a hairpin:

The hairpin significantly slows down the RNA polymerase (imagine it acting as an anchor or a parachute off the back of the polymerase), and causing it to pause in the A/T-rich region. The weaker A-T base pairs in the RNA-DNA duplex allow the transcription complex to fall apart, ending transcription. Rho-dependent termination does not involve a specific sequence, although there is a region of the DNA rich in C. As transcription occurs, a protein called rho attaches to the 5′ end of the growing RNA molecule, and begins moving along the RNA toward the polymerase. When the polymerase reaches the C-rich sequence, it pauses, and the rho protein is able to catch up to the polymerase and knock it and the newly synthesized RNA off the gene.

Transcription in Eukaryotic

Overall, the process of RNA synthesis in eukaryotes is similar to that of prokaryotes. There are some real differences, however. For one thing, initial transcripts in eukaryotes contain introns, which must be removed after transcription (this will be examined later). Eukaryotes also have three RNA polymerases, instead of just one. Each of these polymerases transcribes a different class of genes, as outlined in the table below:

RNA Polymerase I

Genes encoding ribosomal RNA

RNA polymerase II

Genes encoding messenger RNA

RNA Polymerase III

Genes encoding transfer RNA

Our consideration of eukaryotic transcription will focus on genes transcribed by RNA polymerase II (known as class II genes). As with prokaryotes, the transcription process can be broken down into the steps of initiation, elongation, and termination. In eukaryotes, there is also the additional step of RNA processing, which occurs during and after transcription.

Initiation. Initiation in eukaryotes is much more complex than it is in prokaryotes. Eukaryotic genes must be much more carefully regulated, because many genes are only expressed in specific cells or tissues at specific times in the organism’s life. To achieve this careful regulation, eukaryotes have evolved a more complicated initiation scheme than prokaryotes. In addition to promoters, eukaryotic genes also have regulatory regions called enhancers. Both elements (promoter and enhancer) are required for full, correct expression of eukaryotic genes. As a result of this added complexity, eukaryotic RNA polymerases do not have anything equivalent to the sigma subunit found in prokaryotic RNA polymerases. Instead, eukaryotes have groups of transcription factors, which are proteins, independent of the RNA polymerases, that recognize promoter and enhancer sequences. Eukaryotic promoters, like prokaryotic promoters, contain conserved sequences that are important for initiation. (Eukaryotes, because of their added complexity, tend to have more conserved sequences in their promoters than do prokaryotes.) One important sequence in most eukaryotic promoters is found around -30, and has the sequence TATAAA (or something close to it). This promoter element, known as the TATA Box, is analogous to the -10 element in prokaryotes. Other promoter sequences vary from gene to gene, but a common one is GGCCAATCT, otherwise known as the CCAAT Box (for the central bases in the sequence), which tends to occur around -80. A group of basal transcription factors helps to initiate transcription of class II genes. Each member of this group is named “TFII” for Transcription Factor, class II genes. The individual factors are assigned a separate letter designation. For example, TFIID, a factor made of multiple polypeptides, recognizes and binds to the TATA box. This factor and the other factors (TFIIA, TFIIB, TFIIE, TFIIF, TFIIH, and TFIIJ) forms a complex on the DNA that recruits RNA polymerase II to the promoter, and promotes initiation of transcription. These transcription factors are sufficient to get a basal (minimal) level of transcription. Other transcription factors binding to other promoter and enhancer elements are necessary for higher levels of transcription (enhancers and their transcription factors will be addressed in the module on eukaryotic gene regulation).

Elongation. Elongation in eukaryotes is just like in prokaryotes.

Termination. Termination in eukaryotes is quite different in eukaryotes than it is in prokaryotes. Eukaryotic gene
s have no strong termination sequences like prokaryotes. Instead, RNA polymerase II continues transcribing up to 1000 to 2000 nucleotides beyond where the 3′ end of the mature mRNA will be. The actual 3′ end will be determined during RNA processing.

Differences between Transcription Mechanism in Prokaryotic and Eukaryotic

Features

Prokaryotes

Eukaryotes

Comments

DNA template

Smaller genome, nonstructured

Larger genome, pack into nucleosomes

Larger genome will have more nonspecific sites. Packaging causes general repression

Transcription unit

Mostly polycistronic

Mostly monocistronic, 3 types

Eu. have types I, II, III

mRNA formation

Colinear w DNA

Splice out the introns; add poly(A) tails

Not all genes have introns or poly(A) tail in eukaryotes

Promoter element

RNA polymerase holoenzyme can recog. promoter directly

RNA polymerase cannot recog. promoter directly

Preinitiation complex (PIC) in eu. is functionally equivalent to prokaryotic holoenzyme

Relationship with translation

Coupled

Uncoupled

Eukaryotes have nuclei

Transcription: Summary of Key Points

  • Transcription is carried out by enzymes called RNA polymerases, which synthesize RNA in a 5′ to 3′ direction. Prokaryotes have one RNA polymerase; eukaryotes have three RNA polymerases, each of which transcribes a different class of gene.
  • Transcription occurs in three basic steps: initiation, elongation, and termination.
  • Initiation in prokaryotes involves the recognition of promoter sequences by the sigma subunit of RNA polymerase. Initiation in eukaryotes involves the recognition of promoter sequences by transcription factors, which then recruit RNA polymerase to the promoter.
  • Termination in prokaryotes occurs at termination sequences. Depending upon the gene, termination may or may not involve the termination protein rho. Termination in eukaryotes is less specific: it occurs well downstream of the 3′ end of the mature mRNA.
  • Eukaryotic transcripts must be processed to produce mature mRNAs; Prokaryotic RNAs are not processed. Processing involves the addition of a 5′ cap, the production of the correct 3′ end by cleavage and polyadenylation, and the removal of introns by spliceosomes.

*************************************************

What is cell ?

What is cell ?

Sel merupakan unit dari komponen-komponen pembentuk kehidupan pada tingkatan yang dasar. Sel dikatakan sebagai unit terkecil karena sel merupakan sekumpulan dari berbagai macam komponen yang memiliki fungsi beragam yang berperan dalam kehidupan. Sel tersusun atas komponen kimiawi utama yaitu protein, asam nukleat, lemak, dan polisakarida. Tiap-tiap sel paling tidak mengetahui kebutuhan dirinya dan mampu melindungi dirinya dengan mengambil nutrien, mengubah nutrien menjadi energi dan mengkhusukan fungsinya. Sel merupakan suatu satuan yang dinamis oleh karena selalu mengalami perubahan. Perubahan sel dapat berupa pertambahan ukuran dan volume, karena adanya proses pertumbuhan, maupun perubahan fungsi, misalnya karena proses deferensiasi. Bahkan ketika sel tidak mengalami pertumbuhan sebenarnya juga mengalami perubahan di dalam sel karena proses metabolisme yang lain. Ditinjau dari segi metabolisme, maka sel dapat dikatakan sebagai suatu sistem kimiawi. Dalam sistem semacam ini, sel akan melakukan transformasi bahan atau nutrisi menjadi bentuk energi, sebaliknya energi yang digunakan akan digunakan sebagai transformasi balik.

Oleh karena itu struktur sel merupakan pendukung bagi proses kehidupan sel yang telah diatur dengan rapi oleh Sang Pencipta. Pengaturan seluler dapat dilakukan karena sel memiliki dua fungsi utama yaitu : (1) sebagai piranti kimiawi yang melakukan proses metabolisme dan (2) sebagai piranti yang menyimpan kode-kode informasi biologis yang akan diturunkan kepada anak-anaknya. Informasi biologis tersebut disimpan dalam bentuk kode-kode genetik yang berada di dalam bahan genetik, yaitu molekul DNA.

What is the smallest unit of life ?

What is the smallest unit of life ?

Unit terkecil dari kehidupan adalah sel, ketika kehidupan diartikan sebagai kemampuan untuk mereplikasi atau menggandakan dirinya. Sel merupakan unit dari komponen-komponen pembentuk kehidupan pada tingkatan yang dasar. Sel dikatakan sebagai unit terkecil karena sel merupakan sekumpulan dari berbagai macam komponen yang memiliki fungsi beragam yang berperan dalam kehidupan. Sel tersusun atas komponen kimiawi utama yaitu protein, asam nukleat, lemak, dan polisakarida.


What is defining life ?

What is defining life ?

Orang sering menyatakan, jika kehidupan itu nyata, dan kehidupan itu sulit untuk didefinisikan. Kehidupan memiliki perangkat yang secara jelas membedakannya dari sesuatu yang lain. Pertama, setiap benda hidup merupakan seluler (sel). Dengan kata lain, baik sel tunggal atau sel yang tersusun oleh sel-sel biologis. Setiap sel dikelilingi oleh membran luar dan meliputi kumpulan yang penuh dengan perintah yang dibutuhkan untuk operasional kehidupan dan reproduksi. Benda hidup mereproduksi dirinya sendiri, hanya saja untuk medapatkan suatu kehidupan, benda hidup memerlukan benda yang tak hidup.

Sehingga dapat diartikan bahwa kehidupan merupakan serangkaian proses untuk hidup dimana melibatkan komponen-komponen lain baik benda hidup maupun tak hidup. Terdapat berbagai macam proses dalam hidup, sebut saja metabolisme, pertumbuhan, dan reproduksi. Untuk melakukan ketiga proses tersebut, tentu saja butuh dukungan dari materi-materi di dalam unit kehidupan. Sel, sebagai unit terkecil dalam kehidupan telah menyediakan berbagai komponen yang dapat membantu keberlangsungan hidup. Adapun komponen dalam sel dapat berupa materi tak hidup, sehingga dalam kehidupan, peran benda tak hidup sangat dibutuhkan. Materi-materi penyusun kehidupan itu juga tidak serta merta tersedia dan akan selalu ada, materi tersebut disintesis dan terdegradasi, terus-menerus dan berulang-ulang. Sehingga, definisi dari kehidupan adalah serangkain proses yang melibatkan atau menunjukkan adanya interaksi antara benda hidup dan benda tak hidup.

Mifta P Rachman

– M.P.R 2008 –

Is virus living thing ?

“Is virus living thing ?”

Virus bukan merupakan benda hidup, dan merupakan unit aseluler. Virus hanya dapat hidup jika memiliki hospes dan hidup pada level molekuler. Virus tersusun oleh materi gentik berupa DNA atau RNA baik rantai tunggal maupun ganda yang diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid. Kapsid bisa berbentuk bulat (sferik) atau heliks dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus. Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid (biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat langsung dengan genom virus. Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvansi dan mengendalikan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Virus merupakan pasarit obligat intraseluler, maksudnya adalah bahwa replikasi virus berlangsung hanya pada metabolisme sel yang aktiv. Diluar sel hidup, virus hidup sebagai makromolekur yang tidak berdaya.

Virus tidak menyediakan enzim dan kebutuhan prekusor metabolisme untuk replikasinya. Virus harus mendapatkannya dari hospes yang diinfeksi. Karena itu disebut sebagai replikasi viral, yaitu, proses pemisahan dan pembentukan komponen viral dan mempertemukannya ke dalam partikel virus baru. Replikasi dimulai ketika virus memasuki sel. Selubung (pelindung) virus dihilangkan oleh enzim seluler, dan RNA atau DNA virus kontak dengan ribosom (organel tempat sintesis protein) di dalam sel. Di sana, RNA atau DNA virus mengarahkan sintesis protein yang ditetapkan oleh asam nukleat virus. Asam nukleat mereplikasi dirinya sendiri, dan sub unit protein yang terdapat pada selubuh viral disintesis. Setelah itu, dua komponen dipasang ke dalam virus baru. Sekali menginveksi, virus dapat meningkat sampai ribuan keturunan. Beberapa virus terlepas akibat dari kerusakan sel yang terinfeksi.

Mifta P Rachman

~M.P.R 2008~