Berharap-harap Cemas, ahey !!

Sangat berharap sekali merasai cemas yang seperti ini.
Dari Kitab Nasha-ihul ‘Ibad karangan Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-‘Asqalani.

Orang mukmin seharusnya merasa cemas dikarenakan 6 hal, yaitu:

1. Cemas (takut kepada Allah),
Khawatir jikalau sewaktu-waktu Allah mencabut kenikmatan iman.

2. Cemas akan malaikat hafadhah (pencatat),
Takut mereka mencantumkan amal yang dapat mempermalukan diri pada hari kiamat.

3. Cemas akan setan,
Takut seandainya ulah mereka menjadi sebab terhapusnya segala amal kebaikan diri.

4. Cemas akan malaikat maut,
Takut tiba-tiba nyawa dicabut, sedang diri tengah lengah atau lupa.

5. Cemas akan gemerlap dunia.
Takut diri terbujuk, terpukau, sehingga lupa kehidupan akhirat.

6. Cemas akan keluarga,
Takut terlalu disibukkan oleh mereka, sehingga lupa dari mengingat Allah ‘azza wa jalla.

Emm… semoga kita semua dapat menempatkan rasa cemas pada tempatnya.
Betewe, nggak ada tuh ceritanya, cemas karena jodoh yang tak kunjung datang… ^_____^v So, do not worried about this yak !! He knows the best for us

In the end of Januari 2012
Mifta Pratiwi Rachman
“Berharap-harap cemas”

Picture taken from here


Melingkar dalam Teduh

Melingkar dalam teduhnya hati
Bersuara dalam heningnya malam,
Menjadi satu tiada duka

Melingkar dalam teduhnya mata
Bergumam dalam celotehan pagi,
Menjadi indah karena bahagia

Melingkar dalam teduhNya
Oo Aku cinta.


–Medina, 2011–

Mifta P Rachman
“di setiap pilarnya, melingkar sekumpulan halaqoh Al Qur’an”
Pilar masjid Nabawi !

Kang Acept dari Kampus Seberang Jalan

Adakah yang mau kenalan dengan Kang Acept (baca: Asep) ??
Kang Asep ini tinggal di kampus seberang. Itu tuh kampus keren yang warna biru (biru dari mana coba ?) . Kang Asep masuk kampus biru sejak April 2011 lalu, kedatangannya yang tiba-tiba cukup membuat mahasiwa resah. Khususnya mahasiswa pascasarjana. Apa pasal ? Kang Asep yang new comer ini nantinya akan menggantikan posisi Kang Tupel (TOEFL), yang selama ini ada. Entah kenapa mendadak diganti, tapi saya husnudzon saja lah bahwa Kang Asep dihadirkan setelah melalui uji klinis dan juga fit and proper test. Hehe.

Rumor yang beredar setelah Kang Asep hadir ternyata bukanlah rumor yang sedap. Ada beberapa kawan saya, sempat tidak bisa ikut wisuda gara-gara terbentur Kang Asep. Kasus yang sempat membuat berang kepala prodi kawan saya ini, bahkan sempat mau di bawa ke PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) untuk diselesaikan karena keputusan munculnya Kang Asep ini bersebarangan dengan Keputusan pimpinan kampus yang masih berlaku sehingga ada pihak-pihak yang akan dirugikan .

Selain itu, banyak diantara kawan-kawan saya sudah mencoba bertemu Kang Asep lebih dari 2 kali, namun tidak bisa lolos juga. Sementara biaya yang dikeluarkan untuk bertemu dengannya lebih dari seratus ribu rupiah per-pertemuan. Hadehhhh… bisa bangkrut nih.
Cerita lain muncul dari calon mahasiwa kampus seberang jalan itu. Sebelum jadi mahasiswa, memang wajib bagi mereka untuk bertemu dengan Kang Asep. Nah, senasib dengan teman saya yang tidak lolos tadi, akhirnya kebanyakan dari mereka pada desperate dan memutuskan untuk tidak memilih kampus seberang jalan menjadi sarana untuk menimba ilmu. Mereka hijrah ke kampus lain yang juga berada di daerah lain, bahkan ada yang hijrah ke negeri seberang karena biaya pendidikannya lebih murah (katanya) .
Duhh… Kang Asep please deh jangan suka mempersulit orang dong. Btw, siapa sih dalang dibalik kemunculanmu di kampus seberang jalan itu, sehingga dirimu dan kampus itu tidak lagi dirindu untuk ditemui. #Entahlah

Wallahua’lam bi shawab.


Mifta Pratiwi Rachman
Januari 2012
“Adakah yang mau ‘ketemu’ Kang Asep ?”

FYI : Kang Asep ini adalah salah satu tes bahasa inggris, syarat untuk masuk dan keluar dari Kampus seberang jalan itu, yang saat ini masih sering menuai ‘masalah’ . ^______^v
*Picture taken from here

Mencintai jiwamu yang baik itu…

… Menjadi sebuah anugerah terindah, saya bisa mencintai jiwa-jiwamu yang baik itu…

Menjadi mulia itu bukan karena latar belakang kedudukan, kekayaan, maupun fisik rupawan. Menjadi mulia itu muncul dari pribadi agung yang diisi oleh jiwa-jiwa mulia yang kan melahirkan sebaik-baik perilaku (ahsanu amala).

Semoga saja jiwa-jiwa ini bisa kita pelajari dan akhirnya kita pun dapat memilikinya,

1. Jiwa Ta’dhim. Jiwa yang kan selalu merasakan keagungan Allah Ta’ala pada setiap peristiwa dan kejadian dalam hidup ini.

2. Jiwa Tausi’. Jiwa yang selalu merasakan lapang dan luasnya kehidupan dalam setiap peristiwa dan kejadian. Awareness kita terhadap suatu penghinaan cacian atau apalah namanya kadang teruji di sini. Jikalau Jiwa kita sudah sampai pada level Jiwa Tausi’ maka otomatis kita akan berpikir bahwa Si penghina sebenarnya sedang berusa keras untuk menghamparkan jalan kemuliaan lebih tinggi untuk kita.

3. Jiwa Tazyin. Jiwa yang bersih yang selalu dihiasi dengan indahnya iman, amal, dan akhlaq. Ketiganya akan memunculkan kecemerlangan yang pancarannya menjulang tinggi sampai ke langit, menjadi bintang yang menghiasi dan menerangi penduduk langit.

4. Jiwa Rujum. Jiwa yang selalu melempari keburukan dengan api kebencian. Jiwa ini akan bersemayam dalam hati jika kita berniat tuk meninggalkan keburukan yang selalu kita senangi/yang kita inginnya selalu melakukan.

Inspirasi akhir pekan
Januari 2012
Mifta Pratiwi Rachman

sedang belajar membaikkan jiwa, seraya mencintai jiwa-jiwamu yang baik…

*Pict taken from here


Rendezvous (baca: pertemuan) yang dirindu !

Sejak berniat memulai bersahabat (lagi) dengan tempat bernama Laboratorium, saya jadi teringat dengan beberapa tempat favorit yang menjadi persinggahan ternyaman selama ini.


Tempat yang menjadi lokasi rendezvous (baca: pertemuan) dengan ‘makhluk-makhluk’ yang menarik bagi saya di dunia ini. Setelah saya list, nyatanya saya temukan diantaranya :

1. Masjid

*picture taken from here

Disinilah rendezvous with Sang Maha Pencipta tentunya. Selain itu di sinilah tempat orang-orang shalih berkumpul tuk beribadah dan meningkatkan kapasitas ilmu agamanya. Ehm, selain itu kenapa saya memilih mushola apung pascasarjana UGM sebagai contohnya. Kira-kira apa hayo ? Iyap ! Disana adalah tempat rendezvous kenangan dengan seorang yang baik
2. Class / Kelas

*picture taken from here

Disinilah rendezvous antara saya dengan para pecinta ilmu. Mulai dari kelasnya rekan-rekan mahasiwa/i sampai dengan anak-anak SD dan balita. Transfer ilmu kepada mereka semua agaknya menjadi kegiatan yang menyenangkan dalam hidup. Dan itu semua hanya terjadi di sana. Ya ! Di Kelas !!


3. Laboratorium / Lab


Eh, beneran lho Lab ! Lab adalah tempat favorit saya juga. Di sana saya bertemu dengan makhluk ciptaan Allah yang mungkin tak dapat dilihat secara manual. Di sana pula saya berkenalan dengan yang namanya gen, DNA, RNA, bakteri, virus, dll. Ternyata mereka semua adalah material ‘unik’ yang pantas untuk ditemui lho. Dan Lab menjadi tempat rendezvous kami di dunia ini.
— Mulai tune in lagi di Lab ! Yippy ^_____^v

4. Perpustakaan & Book Store

*picture taken from here
*Picture taken from here

Keduanya tak boleh ketinggalan nih… Two of my favorite places. Gimana enggak ? Lha saya bisa lupa daratan kalo sudah berada di sana. Kadang-kadang kalap juga mau pinjem atau beli jejeran penghuninya. Buku… ooh buku.. mengapa engkau begitu menarik siiih ???
Yup ! Perpus dan toko buku adalah tempat pertemuan saya dengan para ‘jendela dunia’ yang sering menggoda iman itu . Sampe-sampe saya koleksi beberapa kartu perpus dan member toko buku lho… hehe.

****

Sungguh rendezvous yang selalu dirindu…
Baik itu tempatnya,
maupun objek yang ditemui.
Semoga semuanya juga turut merindukan tempat-tempat itu yaa
dan,
Semoga Jannah-Nya menjadi sebaik-baik tempat bertemu.

Januari 2012
Mifta Prati
wi Rachman
“rindu bertemu”

Malpraktek !

Semacam oleh-oleh selama berada di rumah sakit beberapa pekan yang lalu. Banyak warna di sana, ada hitam, putih, bahkan merah jambu…cieehhh. Hehe.

Satu kisah yang saya bawa dari salah satu bilik di ruang ICCU RSUP Dr Sardjito. Tepat di samping bilik ayah saya berada, terbaringlah seorang gadis berumur 22 tahun di sana. Setiap malam tak henti-hentinya ia mengigau dan berteriak,tanpa sadar, begitu cerita ayah saya. Mengingat ruang ICCU hanya boleh dikunjungi saat jam jenguk sehingga minim sekali keberadaan penunggu pasien di ruang tersebut. Dek wiwin, sebut saja gadis tersebut demikian. Senior ayah saya 3 hari lebih lama di ICCU, yang sempat ditolak di beberapa rumah sakit area Jawa Tengah. Hampir seluruh fungsi organ dalamnya bermasalah, termasuk jantungnya.

Korban malpraktek !
Begitu cerita singkat dari Ibunda Dek Wiwin.
Awalnya Dek Wiwin menjalani operasi usus buntu di salah satu RS swasta di Jateng. Sepulang dari operasi dan opname diberilah ia obat. Tak berapa lama berselang, tubuhnya panas seperti melepuh, khususnya di daerah muka bagian bawah sampai dengan leher setelah mengkonsumsi obat tersebut. Sampai pada akhirnya sempat koma dan ditolak dibeberapa RS di Jateng. Alhamdulillah RSUP Dr Sardjito mau menerimanya untuk dirawat. Lebih mirisnya lagi, pernah kedua orang tua Dek Wiwin itu mendatangi seorang ‘ustadz’ berinisial GB (nih ustadz sering nongol di tipi dan kebetulan juga suami seorang artis) untuk meminta doa atau apalah namanya, trus disuruh menyetor ‘mahar’ senilai 5 juta rupiah. Hadehhhhh… ckckckck
Sempat dalam sebuah diskusi yang menjadi awal perkenalan saya dan orang tua Dek Wiwin, saya bertanya,
“Ibu dan Bapak tidak ingin mempermasalahkannya sampai ke hukum ?”

“Tidak mbak, mendingan kita konsentrasi saja untuk kesembuhan Wiwin. Ketika diperkarakan toh juga butuh proses dan tidak selalu berpihak kepada korban”, jawab ayah Dek Wiwin.

Setiap saya amati, terlihat sakali wajah lelah sang ayah dan ibunda Dek Wiwin yang sehari-hari tidur di lorong RS. Panggilan dari dokter atau perawat seolah-olah menjadi alarm untuk mempersiapkan mental dan hati jikalau kabar buruk yang didengar. Dan itu sudah menjadi makanan sehari-hari beliau berdua. Pasien anfal, pasien sedang koma, detak jantungnya melemah, jantung sudah tidak berdetak sekian menit, pasang alat kejut jantung, dkk. Hiks..hiks… I can’t imagine kalau-kalau saya yang berada di posisi beliau berdua .

Pagi itu saya pesan ke Ibu untuk membawakan air zam-zam yang masih ada di rumah untuk diberikan kepada para tetangga bilik, termasuk Dek Wiwin, dan siangnya diberikanlah air zam-zam itu kepada Ibunda Dek Wiwin. Karena Dek Wiwik masih koma, maka air zam-zam hanya diusapkan saja di wajah dan beberapa bagian tubuhnya.

Petang harinya, terlihat ibunda Dek Wiwin berada di lorong/koridor ruang ICCU untuk berbincang dengan koleganya, sementara Dek Wiwin-nya masih koma. Kira-kira setengah jam menjelang adzan maghrib suara riuh penuh dengan tindakan terdengar di dalam ruang ICCU dan ortu Dek Wiwin turut dipanggil. Satu sampai dua menit berselang, terdengar suara histeris Ibunda Dek Wiwin… Bulu kuduk saya dan beberapa teman sesama penunggu pasien merinding seketika. Ya, Dek Wiwin telah meninggal dunia.

Orang meninggal di ruangan ICCU memanglah hal yang biasa, sejak ayah saya dirawat selama sepekan sudah lebih dari 5 orang yang meninggal di sana. Mungkin karena Dek Wiwin masih muda dan penyebab beliau sakit itulah yang membuat kami semua yang mendengar kisahnya turut merinding dan berkaca-kaca.

Beberapa menit berselang, tepatnya setelah adzan maghrib berkumandang, dibawalah jenazah Dek Wiwin ke Ruang Forensik RSUP Dr Sardjito. Untuk di otopsi mungkin ? Wallahua’lam.

Ayah dan Ibunda Dek Wiwin mengucapkan pamit kepada kami semua tanda perpisahan. Wajah nya memang nampak tegar, tapi kesedihan masih begitu jelas tergambar. Tambah deh termehek-mehek dan merinding silih berganti
Entahlah apa yang terjadi berikutnya di Ruang Forensik. Yang jelas, Dek Wiwin sudah tenang di alam sana. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semacam pengingat tuk diri sendiri,
Bagi kita yang masih berada di dunia ini. Baik itu dokter, pengusaha, guru, karyawan, dll, Marilah bermohon penjagaan dari Allah atas apa-apa yang kita lakukan dan kerjakan. Selalu awalilah setiap pekerjaan kita dengan membaca Bismillah dan mengakhirinya dengan Hamdallah. Cintailah pekerjaan kita dengan berusaha dan belajar semaksimal mungkin tuk melakukan yang terbaik. Sehingga, tak ada kamus ‘MALPRAKTEK’ mampir di kehidupan kita.

Wallahua’lam bishawab.

Januari 2012
Inspired by true story.