Seuntai Monolog

Seuntai monolog ini sesungguhnya sudah saya share di QN. Tapi tak apalah dibikin jadi jurnal, biar terkesan nambah tulisan di jurnal…hehe.


Ceritanya saya sedang ingin menulis sebuah cerita. Entah itu cerpen atau malah novel , PD sekali dirikuuu… hehe. Dan, ingin juga salah satu monolog di dalamnya berisi kalimat ini,

“Adakah dia yang namanya kusebut di Raudhah dan Multazam sama persis dengan yang ditulis olehNya di Lauhul Mahfuz untukku ?? Yakin bahwa takdir dari-Nya pastilah sungguh indah.”

Adakah yang mau usul nama tokoh tuk mengisi cerita itu ??

Februari 2012
Mifta P Rachman
“dalam sebuah monolog atau memang curcol terselubung ?”
^_____^v

















FYI :
Raudhah dan Multazam dalah tempat-tempat mustajab untuk berdoa. ^_____^v


DALAM sebuah hadits yang diriwayatkan oleh HR.Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasullah Muhammad SAW bersabda : “Tempat di antara rumahku dan mimbar masjidku adalah salah satu taman di syurga. Letak mimbarku di syurga nanti berada di atas telagaku” . Tempat itulah yang disebut dengan Raudhah yang terletak di bagian depan dalam Masjid Nabawi di Madi­nah al-Munawwarah.
Multazam merupakan dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini merupakan tempat utama dalam berdoa, yang dipergunakan oleh jama’ah Haji dan Umroh untuk berdoa/ bermunajat kepada Allah SWT setelah selesai melakukan Tawaf. Rasulullah SAW bersabda, “Antara Rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah, yang disebut Multazam. Tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa terkabul permintaannya”

Picture taken from here

Pas masih ngajar # 11 : Baaaaauuuuu !!

Sepulang dari outdoor class, tiap hari rabu.
 
Kehebohan terjadi di kelas 2 (EL-Two) selesai dari kegiatan outdoor class.
 
“Misssss… bauuuuu”, teriak anak-anak.
“Ha ? Bau ? Bau apa Naak ?“, sahut beberapa diantara para guru.
“Enggak tau Miss, ini kelasnya bau banget. Kayak bau Ee’ (Ups, maaf !)”, kata beberapa murid-murid perempuan yang sensitif dengan bau-bauan.
 
Beberapa diantara kami langsung masuk ke ruang kelas 2, dan benar saja ada bau yang aduhai di sana. Dari baunya, jelas sekali bahwa ini bau kotoran. Entah kotoran hewan atau manusia. Dengan sigap dibantu anak-anak kami mengelilingi ruang kelas, namun nihil. Dan berakhir dengan tuduh menuduh antar murid kelas 2.
 
“Kamu yang bau…”
“Bukan, tapi kamu tuuuhh…”
“Enak aja, kamuuuu !!”
 
Kira-kira begitu adegannya.
 
“Sudah-sudah, kalau begitu kita buka saja pintunya lebar-lebar biar baunya keluar, yaa”
“Iyaaa Misssss…”, Jawab anak-anak kompak.
 
Belum ada sepuluh menit kegiatan kelas berlangsung, anak-anak dan saya pun akhirnya ‘nyerah’ juga dengan bau di kelas itu. Akhirnya dengan pura-pura berkeliling saya dekati murid satu persatu dan mencoba menajamkan indera penciuman saya. And finally, I’ve got the talent !! Eh, I’ve got the children ding . Emm…seorang anak yang nampak diam dan agak gelisah plus bau tercium menyengat dari dirinya.
 
“Okey Class, we have to break for a while, yaa…” sahut saya.
“Horeeeee…”, kompak anak-anak bersorak.
 
Saya pun mendekati anak yang saya ‘curigai’ itu. Dan mengajaknya ke tempat yang sepi, sembari menginterogasinya. Dan, huffffhhhh, ngaku juga akhirnya. Bocah lelaki berusia 8 tahun itu ternyata (maaf) Ee’ di celana. Selidik punya selidik dirinya memang masih ‘kacau’ dalam toilet trainning. Setidaknya itu yang saya ketahui selama ‘mengurusi’ dirinya berganti celana dan (maaf) menceboki dirinya di kamar mandi sekolah. Beruntung setiap anak selalu sedia pakaian ganti di lokernya .
 
Selesai berganti pakaian, saya beri wejangan untuk dirinya.
 
“Jika kebelet ingin Ee’, segera bilang sama Miss ya. Nanti miss temani dan ajarin cara ceboknya. Mas Keenan (Nama samaran) harus mulai belajar sendiri yaa. Deal ??”
 
“He-Em”, bocah itu mengangguk.
 
*******************************************
Let’s talk about toilet trainning.
Kira-kira waktu yang terbaik untuk mengajari anak toilet trainning itu kapan ya ?
Hmm… jika boleh berpendapat sih, sebetulnya tidak ada waktu/usia pasti untuk mengajarinya. Semakin cepat, akan lebih baik, begitu menurut saya.
 
Tatkala seorang anak sudah mulai bisa berjalan sendiri maka tidak ada salahnya dikenalkan dengan kamar mandi dan perangkatnya. Anak juga sudah mulai diajarin memberikan ‘tanda’ jika ia sedang dalam keadaan kebelet. Misalnya dengan mengangkat rok nya atau mencoba mencopot-copot celananya, pertanda ia sedang kebelet dan ingin ke kamar mandi. Nah, jika seorang anak sudah mulai terbiasa maka jangan pelit untuk memberikan pujian dan apresiasi dalam bentuk apapun di setiap perkembangan toilet trainningnya.
 
Mengajari toilet trainning merupakan PR besar bagi para orang tua. Ya kalo bisa sih, kejadian seperti yang terjadi pada Keenan (Nama samaran dari cerita di atas), yang sudah 8 tahun itu, tidak kejadian di anak-anak kita. Kalo seorang anak tidak diajari, mana bisa termotivasi untuk mempelajarinya sendiri…
 
Kiranya begitu, silakan dikoreksi dan ditambahi bagi yang memiliki banyak pengalaman dalam mendidik putra-putrinya.
 
Wallahua’lam bishawab.
Februari 2012
Mifta Pratiwi Rachman.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Picture taken from here

Sakit ‘Jiwa’ kah Kita ?

Sakit Jiwa kah kita ??

Jikalau ketiga hal di bawah ini ada pada diri kita, agaknya predikat Sakit Jiwa layak kita sandang. Ahh, semoga saja tidak yaa.

1. Disorientasi hidup
Tatkalan hidup ini dipandang dari sudut pandang dunia semata, dan merasa sangat betah hidup di ‘kampung rantau’ (baca: dunia) serta tidak ada kerinduan untuk pulang ke kampung asal, kampung akhirat.

2. Distorsi hidup
Tatkala kejadian-kejadian dalam hidup ini disimpulkan secara terbalik. Ketika yang mudah dirasa sulit, dan yang sulit dirasa mudah. Misalnya saja, Sabar dan Makan. Antara sabar dan makan, manakah yang lebih mudah ? Jikalau kita memilih makan sebagai hal yang lebih mudah, ada kemungkinan distorsi hidup tlah merasuki diri.

Tanya kenapa ?

Kalau makan, bukankah kita harus mempersiapkannya terlebih dahulu ? Membeli makananannya, atau memasaknya baru kemudian siap untuk dimakan. Butuh waktu yang lama kan untuk merasakannya ? Nah, sedangkan sabar hanya butuh waktu seper-sekian menit/detik tuk merasakannya.

Bukankah begitu ?

3. Disharmoni hidup
Tatkala keharmonisan dalam diri telah hilang dan sering terjadi pertikaian dengan diri sendiri. Misalnya saja berbohong, ingkar janji, dan berkhianat. Bukankah saat kita melakukan hal-hal tersebut kita sedang ‘bertikai’ dengan diri sendiri ?

Bahkan kelak, ketika ajal tlah menghampiri diri maka ketiganya akan kompak membuat ‘repot’ kita tatkala menghadapi malaikat maut.

DISORIENTASI akan membuat HILANGNYA KETENANGAN SAAT AJAL DATANG MENJEMPUT.
DISTORSI akan membuat SULIT TUK BISA MENGINGAT/MENYEBUT NAMA ALLAH SAAT AJAL DATANG MENJEMPUT.
DISHARMONI akan membuat TIDAK BISA IKHLAS SAAT MAUT DATANG MENJEMPUT.

Naudzubillahimindzalik.


Wallahua’lam bishawab.
Februari 2012
Mifta Pratiwi Rachman
Inspired by Kajian Ust Syatori A.






















Picture taken from here

Alarm 7.30 AM: Tentang Jatuh Cinta

Semacam Alarm
Agar jatuh cinta tak menjadi sakit ‘jiwa’

…..

Bersegeralah ‘menyadarkan diri’, bahwasannya semua rasa yang timbul itu adalah fana, maya, semu. Rasa itu timbul oleh karena adanya sebab. Maka seiring dengan hilangnya sebab-sebab yang mengharuskan kebersamaan dan ke-terbiasa-an tersebut, maka akan menyertai pula hilangnya perasaan yang pernah bertumbuh itu. Cepat atau lambat pun rasa itu akan berkurang lalu hilang.

Lalu yakinlah. Bahwasanya jelas janji-Nya dalam Al-Quran. Telah Ia siapkan laki-laki baik untuk perempuan-perempuan baik, pun sebaliknya. Jika dalam al-huda itu pun telah jelas tertulis, maka masih adakah alasan kita untuk meragu?

Mari sibukkan diri dalam perbaikan. Meningkatkan kualitas diri dan berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan satu yang terbaik yang telah disiapkan oleh-Nya untuk masing-masing dari kita. Jangan biarkan tipu daya syetan itu memonopoli hati dan pikiran kita. Menjerembabkan diri kita ke jurang nista.


Courtesy:http://www.dakwatuna.com/2012/01/17936/menyikapi-cinta-di-kalangan-aktivis-dakwah/#ixzz1ljDAwEJ9



Picture taken from here

Balada Jumu’ah Mubarakah

Suatu ketika
di Masjid Nabi.

Alif Laam Miim Tanziilul…

Bacaan surah As Sajadah mengalun lembut dari Imam Masjid tersebut. Roaming betul saat itu, karena memang belum hafal surah nya dan tidak ‘ngeh’ surah apa itu. Sang Imam Masjid memang ‘terkenal’ melantunkan Surah As Sajadah ketika salat subuh di hari Jum’at.

… khorru sujjadaa… (Ayat ke 15 Surah As Sajadah)
Allahu Akbar…

Mendadak ada yang sujud dan ada yang ruku’, di saat Imam berhenti pada ayat tersebut. Kami, jama’ah akhwat yang notabene tidak dapat melihat imam cukup bingung juga. Nah,
Kira-kira mana yang tepat / yang dilakukan oleh imam ??

Happy holy Jum’ah Mubarakah dear Teman semua
Cheers,
Mifta Pratiwi Rachman
Februari 2012
“Benarlah jika ibadah butuh ilmu”

Three Cups of Tea

Inspiring book !
Emm… apa jangan2 Indonesia Mengajar juga terinspirasi dari ini yaa… hehe. Piss ya Prof. Anies Baswedan ^_____^v

“The first time you share tea with a Balti, you are a stranger. The second time you take tea, you are an honored guest. The third time you share a cup of tea, you become family, and for our family, we are prepared to do anything, even die. Doctor Greg, you must take time to share three cups of tea. We may be uneducated but we are not stupid ” (Haji Ali cit. Greg Mortenson).

Saya beli buku ini baru pertengahan tahun lalu. Sengaja ke Periplus Malioboro Mall untuk hunting. Segera saja setelah saya beli langsung deh di ‘lahap’. Nah, setelah baca, berasa useless banget dehjadi manusia 😦 😦 *cengeng mode:ON*

Buku ini seri young reader nya Three Cups of Tea. Dilengkapi pula dengan foto-foto yang full colour. Bercerita tentang perjuangan seorang ‘relawan’ di bidang pendidikan bernama Greg Mortenson yang awalnya tersesat dan hampir meninggal saat pendakian gunung K2 dan ditolong oleh penduduk muslim setempat (Korphe) di kaki gunung yang terletak di Pakistan tersebut.

Berawal dari secangkir teh yang selalu disajikan untuk menghormati tamu yang datang, akhirnya Greg Mortenson berjanji akan kembali suatu saat nanti dengan misi kemanusiaan. Awalnya, apa yang diucapkan olehnya tidaklah diambil hati oleh penduduk setempat, namun tak disangka Greg kembali juga dengan perjuangan yang luar biasa.

Jatuh bangun mulai dari sulitnya mengumpulkan donasi untuk membangun sekolahan sampai harus LDR dengan isterinya bahkan sampai anaknya lahir pun ia lakukan. Dan hasil perjuangannya bersama dengan para penduduk muslim di Pakistan tadi tidaklah sia-sia. Sebuah desa yang awalnya sama sekali kurang memperhatikan pendidikan kini telah menjelma menjadi kawasan orang-orang terdidik, bahkan dengan mudahnya donasi terhimpun untuk membangun sekolah-sekolah baru. bahkan sampai ke daerah konflik seperti Afghanistan.

Huffhh… envy dan malu juga sama Mr. Greg. Saya yang ‘mengaku’ sebagai orang yang ‘agak’ peduli dengan pendidikan bahkan sama sekali belum bisa berbuat apa-apa. Berasa useless !!

Untuk cerita lengkapnya silakan saja baca sendiri yah.
Seru dan haru !

*****
Detail information.
Title: Three Cups of Tea (Young readers version)
Authors : Greg Mortenson, David Oliver Relin
Publisher: Penguin Audio; Unabridged edition (January 22, 2009)
Language: English

Atau search di, http://www.threecupsoftea.com/

Segitu dulu ya share nya. Sudah lama ingin dishare tapi baru sempat saat ini dan malah bukunya dah pindah tangan (dipinjam belum dibalikin) 😦 😦 😦 *curcol*

Cheers,
Mifta Pratiwi Rachman
Feb 2012

Pesan singkat untuk dunia

Entahlah, just wanna saying.

Sedang sangat merasa dekat dengan kematian.
Sekali lagi,
Entahlah !

–Short message to the world–

“I know now, now that we’re out of the world we once lived in–that we weren’t nice people, we didn’t offer anything to anybody in the world but we took an awful lot–We didn’t deserve this. I lived in the now”

(I suddenly seem bleak and grey, but I have to rock those world).

Allahu la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum.

Mifta P Rachman
Feb 2012
picture taken from here