Dakwah ini Butuh Komitmen

Very excellent advise from the author of Memperbaiki Kominten Dakwah
— Muhammad Abduh


Aktivis dakwah yang sesungguhnya, adalah orang yang paling banyak ibadahnya kepada Allah, tunduk, taat dan merendahkan diri di hadapan-Nya. (P. 69)

Sangat disayangkan sekali karena orang-orang yang lengah itu meninggalkan dunia, tetapi belum berhasil menikmati lezatnya dunia. Apakah kelezatan dunia itu? Ia adalah mencintai Allah dan kenikmatan dalam bermunajat kepada-Nya. (P. 70)

Saya tidak pernah menyesali sesuatu lebih dalam dari menyesali suatu hari, dimana matahari sudah terbenam, dan umur saya berkurang, namun amal saya tidak bertambah. (P. 139)

Kini, kalian masih belum dikenal. Kalian baru masuk pada fase persiapan untuk memasuki jalan dakwah dan merealisasikan tuntunannya, berupa jihad dan perjuangan. (P. 233)

Sementara pribadi yang suka menutup diri, dan hubungan sosialnya rendah, tidak pernah dibebani pekerjaan. Akibatnya, mereka akan selalu minder dalam melaksanakan tugas dakwah, hilang kepercayaan diri mereka, dan takut akan tanggung jawab (P. 243)


Cheers,
Mifta P Rachman
“Seberat apapun bebanmu, tetaplah berdakwah karenaNya”

** Picture taken from here

Aransemen Malam Tentang Aku dan Kamu

Mengaransemen Natural-nya D’Masiv
Kira-kira kata apa yang saya tambahkan dalam liriknya ??

…..

Aku hidup di dunia

ingin tenang baik-baik saja

bersamamu aku bisa melewati itu,


bukan Aku yang mencarimu

bukan Kamu yang mencari aku

cinta ‘Tuhan’ yang mempertemukan

dua hati yang berbeda ini

April 2012
Mifta P Rachman
Geje Mood, Detected !!
“Cinta Allah lah yang mempertemukan,
dua hati yang berbeda ini “

Dua hati ?? Ehmm…entahlah hati siapa
*picture taken from here

Titip Rindu Untuk Anakku

When you’re gone
The pieces of my heart are missing you
And when you’re gone
The face I came to know is missing too


Betul-betul sedang sangat merindukan mereka semua. Ya, anak-anakku semua. Ehm, lebih tepatnya murid-murid saya dulu kala. Bukankah tidak ada mantan murid pula mantan anak, kan ? Oleh karenanya ijinkahlah saya tuk tetap memanggil mereka semua dengan sebutan ‘anakku’.


Anak-anakku, engkau sedang apa sekarang ?
Sudah berapa cm tinggi kalian saat ini ?
Masih ingatkah engkau pada ‘miss’ mu ini ?

Ahh, entahlah.
Yang Miss ingat,
Kalian ada pelipur lara yang dikirimkan oleh Allah untuk Miss.

Rabb…
Titip rindu untuk anak-anakku.

April 2012
Mifta P Rachman

Teruntuk ‘Ibu-Ibu dan Bapak Pendidik’,
“Nikmatilah dengan cinta, peranmu saat ini. Bukankah peranmu itu begitu mengasyikkan ? Bahkan akupun rindu tuk berperan lagi”



*first trip with them and I was the driver. Hahay.

Sulit itu ‘Mudah’ kog

Ketika Rasulullah tertimpa kesulitan, beliau mengucapkan:


“Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahla, wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahla”

artinya,

“Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali apa yang Engkau menjadikannya mudah. Dan Engkau dapat mengubah yang sulit menjadi mudah bila Engkau kehendaki.”

(HR. Ibnu Hibban)


Dear sahabat-sahabatku yang saat ini tengah dilanda kesempitan, tak usahlah engkau bersedih hati dan merasa hidup ini begitu menyiksa. Percayalah bahwa setiap kesulitan itu akan diiringi oleh dua kemudahan sekaligus. Bukankah itu sebuah kabar gembira dari Tuhan yang seharusnya dapat menyenyakkan tidurmu malam ini ?

Maka, tak perlulah kau sembunyikan senyummu itu, tak perlulah menyumbat dadamu itu dengan gundah, dan tak perlulah menahan doamu tuk kau panjatkan.


“Ya ayyatuhan nafsul mutmainnah. Irji’i ila rabbiki radiyatam mardiyyah. Fadkhuli fi ‘ibadi. Wadkhuli jannati”

“Wahai jiwa yg tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dgn ridha dan diridhai. Maka masuklah dlm golongan hamba-hambaKu, dan masuklah dlm surgaKu”

(QS. Al Fajr: 27-30)

22 April 2012
Mifta Pratiwi Rachman

Ooo, begitu ya rasanya rindu itu

Ooo, begitu ya rasanya rindu itu…“, gumam saya agak kelu saat mendengar ibu-ibu binaan taklim saya berujar, “Mbak… kami rindu. Alhamdulillah akhirnya kita pengajian lagi”


Ya. Antara kelu karena perasaan bersalah dan juga bahagia karena dirindukan kehadirannya, semua campur aduk jadi satu. Pesan singkat yang saya kirimkan hari kamis sore kepada ibu-ibu binaan taklim ternyata mendapat respon diluar dugaan saya.

Sebaris kata bernama RINDU, lagi-lagi terucap dan terucap dari bibir Ibu-Ibu itu. Hiks… jadi merasa gimana gituuu. Feel guilty akut tepatnya.

Sore itu, tepatnya sabtu pekan lalu. Pasca menghadiri sebuah acara yang berakhir dengan adegan ‘malu-maluin’ karena saya nabrak tembok saking terburu-burunya untuk pulang mengisi taklim Ibu-Ibu dan karena saking excited nya ketemu seorang kawan. Namun, rasa malu saya itu akhirnya berbuah rasa bahagia yang tak terkira. Bagaimana tidak ? Sudah hampir sebulan taklim saya terlantar akibat saya tinggal lembur di tempat kerja. Pesan singkat bernada apologi pun senantiasa terkirim ke ponsel ibu-ibu binaan taklim setiap pekannya. Saya bukannya tidak berusaha mencarikan pengganti, namun apa daya, tak seorang pun rekan saya yang mau menggantikan. Lebih tepatnya mungkin karena faktor waktu yang tidak match dan mungkin juga karena ‘belum siap’ mengisi taklim ibu-ibu. Entahlah, Wallahua’lam.

Dan akhirnya, dari sebuah kata bernama RINDU itu saya menyadari bahwa beliau-beliau itu begitu luar biasa. Ya, bagaimana tidak luar biasa. Dengan ikhlas, qonaah dan tawadhu’ nya beliau semua mampu menerima saya, yang mungkin bagi sebagian besar orang lain bersifat ‘menggurui’. Yah, siapa sih saya ini ? Yang hanya seorang anak kemarin sore tapi berani-beraninya ngomong soal agama di depan mereka. But, sungguh itu semua tidak sedikitpun terbesit di hati beliau semua *terharu mode:ON. Beliau-beliau tidaklah melihat siapa yang menyampaikan sesuatu, namun lebih fokus kepada sesuatu apa yang disampaikan yang selalu membuat mereka rindu. Sesuatu yang bersifat baik memanglah selalu dirindu siapa saja. Termasuk kerinduan ibu-ibu taklim saya untuk ‘dibina’. Ya, ‘dibina’ dan ‘membina’ memang selalu menghadirkan energi positif tersendiri, dan RINDU menjadi bumbu nya agar kian sedap dirasa.
Wallahua’lam bi shawab.
“Ya Allah, Ya Rabbana. Kumohon sentuhlah hatinya dan hatiku tuk senantiasa melakukan kebaikan. Pertemukanlah kami dalam suasana penuh kerinduan tuk berjumpa dengan-Mu. Sentuhlah hatinya, sebagaimana Engkau pernah menyentuh hatiku”

Sabtu pekan lalu.

Akhir pekan, penuh kejutan.
Mifta Pratiwi Rachman






Picture taken from here