[KCB] Ketika Cinta, Bersabarlah

Haiii semua. Semoga sehat selalu yaa kondisinya. Sebagai awal menstimulasi ‘mood’ menulis di MP lagi, enaknya bikin tulisan tentang cinta deh…dan kayaknya bakal laku keras di baca.. hehe.
 
Here we go !
Sebuah story dari seorang sahabat yang hampir setahun tersimpan rapih dalam loker kehidupan kami.
 
“Sabar yaa…”
 
———-
Siang itu, masih dengan senyum manis yang tersungging mengalirlah ceritanya. Sebuah cerita pembuka yang menjadi awal dari cerita-cerita selanjutnya.
 
DIA : “Proses ta’aruf ku tidak lanjut ukh, beliau (ikhwan yg dimaksud_red) memutuskan untuk tidak melanjutkan ta’aruf… “.
 
Masih dengan senyuman yang sepertinya agak sedikit dipaksakan. Tak terlihat rona kesedihan yang mendalam ataupun tanda-tanda akan ada gerimis di pelupuk mata. Mencoba tegar, mungkin itu yang dilakukannya.
 
SAYA : “Apa alasannya ukh ? “
DIA : “Emm, saya juga ndak tau Ukh. Mbak ku cuma bilang kalau beliau belum bisa melanjutkan ta’arufnya. Beliau mengirimkan email ke Mbak ku.”
SAYA : “Ha ? Itu saja ??”
DIA :mengangguk. “Mungkin ini sudah ketetapan Allah Ukh”, jawabnya simpel.
SAYA : “Dan dirimu tidak mencoba mencari tahu kenapa alasannya ??”
DIA : menggeleng. “Biarlah. Mungkin ini sudah ketetapan Allah.”, lagi-lagi dengan simpelnya dia menjawab.
 
Hufhhh… Padahal masih kuingat betul betapa bahagianya dirinya saat itu. Kala dia mengabarkan bahwa dia sedang ta’aruf dengan seorang lelaki yang begitu sholih di matanya dan sesuai dengan apa yang dia butuhkan secara kriteria. Ya, hanya padaku saya dia mengaku, dan sahabat mana yang tidak turut bahagia mendengar kabar bahwa sahabatnya tengah berproses menuju penyempurnaan separoh agama. What a great news at that time.
 
Masih jelas teringat pula betapa rasa bahagia itu tergambar jelas pada raut mukanya. Ya, dia menganggap bahwa apa yang dia pinta selama ini kepada Sang Rabbul ‘Izzati tlah dikabulkan. Apalagi saat itu dia barusan pulang dari tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh. Bukanlah sebuah kebetulan kan ? Melainkan memang Allah telah mengatur segalanya.
 
Proses ta’aruf pertamanya berjalan dengan baik walaupun jarak jauh. Fasilitas Yahoo Messanger (YM) menjadi sarana untuk proses ta’arufnya. Mbak nya (guru mengaji nya) pun turut serta mendampingi prosesnya. So, Insya Allah prosesnya syar’i. Apalagi dia bilang kalo selama berproses tidak ada interaksi sama sekali diantara keduanya. Entah selang berapa lama tibalah saatnya untuk ta’aruf yang kedua diamana keduanya bertemu secara ‘live’ alias temu darat. hehe. Plus keduanya telah menyampaikan niat baik mereka kepada keluarga masing-masing dan pada akhirnya, proses ta’arufnya belum dapat dilanjutkan.
 
DIA : “Bantu aku ya untuk menetralisir hati. Karena bagaimanapun juga ada ‘sesuatu’ yang tlah mengisi salah satu ruang di hati ini”, pintanya.
SAYA : “Ketika cinta, bersabarlah ukhti. DIA lah Sang Maha Pembolak Balik Hati. Kembalikanlah kepadaNya dengan sabar dan rasa cinta padaNya. Bersabarlah tuk menantinya dan percayalah bahwa cinta itu akan indah pada waktunya kok.”
DIA : Mengangguk. “Iya”
SAYA : “Jadikanlah diri kita sebaik-baiknya pilihan. Ya, sebagai orang yang pantas untuk dipilih, orang yang pantas untuk diperjuangkan, oleh orang pilihan”
DIA : “Insya Allah”
 
———
 
Ketika misteri tentang jodoh itu sempat dibukakan jalannya dan kemudian seolah-olah tertutup kembali, maka sesungguhnya jalan itu tidaklah sedang tertutup, melainkan hanya dialihkan kepada jalan-jalan yang lebih lebar, lagi luas dan lapang.
 
Wallahua’lam bishawab.
 
Ketika Cinta, Bersabarlah,
Kalaulah Jodoh tak kan lari kemana.
 
Cheers,
[MPR]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
*picture taken from here