Category Archives: Family

When the Birthday Moment is Calling Me Back for Blogging

Assalamu’alaikum guys… It’s been very ages not updating my blog for more than a year and finally I made it. Yay!

I deliberately wrote this note for a special occasion, so I have no reason to procrastinate (again) to start blogging. Yes, I accuse ‘laziness disease’ for a thing which should be responsible in this case: D

I formerly want to post this in my ‘not so-so birthday’, the time when my husband gave me a beautiful birthday gifts which I never thought before. However, in fact I just posted it today. Talking about birthday moment we are included as ‘so-so’ people who never have special celebration for this. We have no birthday cake moreover blowing the candle(s) and giving a gift also not only on that day, though.

Alhamdulillah, all praises to Allah who gives me His Blessing and a chance to keep me doing well in my not so young age 😀

20141127_104554_resized Continue reading When the Birthday Moment is Calling Me Back for Blogging

Children of Heaven (1997)

Lagi-lagi dari kapan lagi (males ngereview !). Tadi siang film ini diputer lagi di salah satu stasiun TV swasta. Hiks !

Walau sudah berkali-kali menonton tetep saja ‘nyesek’ di dada. Berdarai-derai deh ni air mata.

Dari KapanLagi.com.

Film Iran berdurasi 89 menit ini memang benar-benar mampu menggugah air mata untuk menetes. Kisahnya sebenarnya sederhana saja, hanya tentang perjuangan seorang anak laki-laki dari keluarga miskin bernama Ali yang berjuang mendapatkan sepasang sepatu bagi adiknya, Zahra.

Ceritanya bermula dari Ali yang tak sengaja menghilangkan sepatu adiknya saat membeli kentang. Takut dimarahi orang tua mereka, Ali membujuk adiknya untuk tidak mengadu. Zahra setuju dan mereka pun mulai menyusun
strategi yaitu bergantian memakai sepatu untuk pergi sekolah. Akibatnya, Zahra yang bersekolah pagi pun harus selalu berlari pulang demi memberikan sepatu yang dipakainya untuk ganti dikenakan Ali yang masuk siang.

Kisah semakin mengharukan ketika Zahra berhasil menemukan sepatunya yang hilang ternyata dipakai anak lain. Namun, karena anak tersebut lebih miskin darinya, maka Zahra pun tak tega meminta sepatu itu kembali. Titik pengharapan mulai muncul ketika kota mengadakan lomba lari maraton. Iming-iming hadiah sepasang sepatu karet untuk juara III menarik perhatian Ali yang merasa bertanggung jawab atas hilangnya sepatu sang adik. Sayangnya, usaha keras Ali untuk memenangkan sepatu ternyata tak berhasil. Bukan karena kalah lomba, ia malahan berhasil meraih juara I yang hadiahnya bukan sepatu, dan semua itu berkat kegigihannya.

Menyimak film arahan sutradara Majid Majidi satu ini, ada banyak hal yang bisa kita petik darinya. Pertama-tama, kita belajar tentang bahwa tanggung jawab itu tak mengenal kaya-miskin atau besar-kecilnya suatu hal. Tanggung
jawab adalah tanggung jawab. Titik. Itulah yang ditunjukkan sosok Ali pada adiknya, Zahra. Kedua, kita juga belajar bahwa tak peduli seberapa besar penderitaan yang kita alami, selalu ada pihak lain yang sebenarnya lebih sengsara daripada kita. “Hei, kita bukanlah orang yang paling malang di dunia ini.” Oleh sebab itu, jangan biarkan rasa mengasihani diri membuat kita jadi egois dan tak mempunyai empati pada kepentingan orang lain. Salut untuk orang-orang seperti Zahra!

Hal lain adalah bahwa kegigihan bisa melepaskan kita dari kemiskinan. Bukan sekedar miskin uang, namun kemiskinan di sini juga bisa mencakup defisit moral, harga diri, impian, semangat juang, atau hal lainnya. Jika kita mau gigih dan ulet, maka kita bisa meraih apa yang kita impikan.

The best movie ever deh ni kayaknya….
5 stars deh ! (ngasih stars nya sambil nangis, soalnya masih terharu dengan film nya).

Flipped (2010)

Sebuah kisah tentang terbolak-baliknya kehidupan, terbaliknya perasaan, berbaliknya keadaan, dan akhirnya…. memang flipped !! hi..hi..hi…

Film ini ‘based on’ novelnya Wendelin Van Draanen dengan judul yang sama pula ‘Flipped’. Berkisah tentang seorang gadis bernama Juli Baker (Madeline Carroll) yang sejak pertama kali bertemu dengan Bryce Loski (Callan McAuliffe) telah merasakan yang namanya first love dan love at the first sight…hahayyy. Padahal saat ia masih duduk di kelas dua SD dan kebetulan sedang pindahan ke kompleks rumahnya Bryce. Sayangnya, apa yang dirasakan Juli tidak dibalas oleh Bryce. Juli bertepuk sebelah tangan deh, tapi bukan Juli namanya kalo ‘give up’ begitu saja. Selama enam tahun penuh Juli memegang teguh apa yang ia yakini walaupun Bryce tak juga meliriknya. Selama itu Juli tetep kekeuh memelihara perasaannya itu, dan sudah ‘have a crush’ banget deh kayaknya si Juli ini, hadughhhh. Ini noh contohnya…

Juli Baker: “His hair smelled just like watermelon”
Nah lho…memang love itu blind and blinded ya. ck..ck…ck..

Sementara si Juli sebegitu ngefans nya sama Bryce, justru dimata Bryce Juli adalah gadis yang aneh. Anehnya dimana ? Juli ini punya hobi ‘unik’, ia gadis yang suka manjat dan duduk di atas pohon sycamore dan memelihara ayam terus memanen telur-telurnya. Ini nih spot-spot yang saya suka di film ini. Spot dimana Juli lagi duduk diatas pohon, sementara teman-temannya dibawah sedang nugguin bus sekolah. Pohonnya bagus banget, apalagi view yang dilihat dari atas pohon…behhhh !! cakep bener.

Juli Baker: “Bryce, you should come up here. It’s so beautiful.”
Begitu kata Juli ketika berkali-kali mengajar Bryce naik ke atas pohon sycamore ‘nya’ itu. Tapi selalu deh Bryce menolaknya.

Kemudian, enam tahun lewat dan tiba-tiba saja semuanya berubah. Bryce mulai bisa melihat Juli sebagai sosok yang menarik sementara sebaliknya, Juli mulai berpikir kalau sebenarnya tak ada yang menarik dari Bryce.

Garrett: “Hey! Have you flipped? Whats the matter with you?”
Garret temannya Bryce rupanya menyadari gelagat aneh sahabatnya itu.
Di titik akhir, Juli dan Bryce akhirnya menyadari siapa diri mereka dan apa yang selama ini mereka cari. Walaupun film ini kisahnya tentang percintaan, tapi tidak vulgar. Benar-benar asli mengangkat sisi roman dengan sangat cerdasnya. Apalagi banyak ungkapan-ungkapan menarik di film ini, ungkapan yang melankolis menurut saya. Sepertinya itu memang menjadi ciri khas/tipe dari novelnya Wendelin Van Draanen deh.

Contohnya ini nih, salah satu ungkapan kakeknya Bryce (Chet Duncan yang diperankan oleh John Mahoney). Chet yang justru malah lebih dekat dengan Juli ketimbang Bryce ini sempat memberikan wejangan untuknya.

Chet Duncan : “Some of us get dipped in flat, some in satin, some in gloss; but every once in a while, you find someone who’s iridescent, and once you do, nothing will ever compare.”

So…tidak ada salahnya nonton film ini. Bagus !! and finally..u’ve flipped !
he..he..flipped dari pemikiran yg kurang baik menjadi baik (semoga).

5 Barang Pengancam Kesehatan (repost dari yahoo)

Bahaya yang mengancam kesehatan ternyata ada di dalam rumah Anda sendiri. Apa saja?

Siapa sangka, barang-barang di rumah kita bisa menjadi sumber penyakit yang berbahaya bagi kesehatan. Berikut daftar barang-barang tersebut, seperti yang dikutip dari Genius Beauty.

1. Talenan kayu.


Hingga kini, benda ini masih menjadi barang yang selalu ada di dapur. Fungsinya sebagai tatakan saat memotong bahan-bahan mentah untuk di masak. Menurut John Oxford, peneliti dari Universitas London, sebuah talenan kayu dapat menyimpan ribuan bakteri penyebab penyakit. Sisa potongan makanan yang mengendap dapat membuat koloni bakteri baru dan mengendap di kayu. Bakteri tersebut akan menempel di setiap bahan makanan yang kita potong.

2. Talenan plastik.

Seringkali digunakan untuk mengganti talenan kayu yang lebih tradisional. Tak semua talenan terbuat dari plastik yang aman. Bahan plastik bisa berbahaya jika tidak sengaja terkonsumsi. Pilihlah produk talenan plastik yang menjamin keamanan plastiknya. Jika Anda tak yakin, saat talenan sudah tergores, lebih baik ganti dengan yang baru.

3. Sikat gigi.

Peneliti dari Universitas Manchester mengungkap bahwa sebanyak 10 juta bakteri bisa berkumpul di sikat gigi. Tak hanya itu, virus penyakit dan jamur bisa berkembang biak di sana. Para peneliti menyarankan Anda untuk mengganti sikat gigi 2-3 bulan sekali.

4. Handuk.

Kondisinya kurang lebih sama dengan sikat gigi. Dan untuk menghilangkan bakteri yang berkumpul di dalamnya, perlu pemanasan hingga 90 derajat celcius.

5. Bantal.

Bakteri yang berkumpul pada bantal bisa menyebabkan gangguan pernapasan, gatal-gatal dan demam. Professor Jean Amberline, dari British Society for Allergy menyarankan untuk mengganti sarung bantal secara teratur, serta mengganti bantal setiap 2 tahun sekali.

Dari Ayu Kinanti (editor yahoo) or copas di sini.

Tulisan di atas sebenarnya sudah sangat populer sekali di blog-blog..but tidak ada salahnya di share disini…semoga bermanfaat.

Ketika balita kecopetan

Cerita ini 100% kejadian nyata yang menimpa keponakan saya..
Lila, balita berumur hampir 3 tahun itu. Dia adalah anak yang cerdas, lucu, mandiri, namun belum padai dalam berbag dan sedikit kemayu. Kira-kira beberapa hari yang lalu ia mengalami kejadian yang agak sedikit ekstrim bagi anak seusianya. Ya, dia kecopetan. Bukan ibunya, tetapi dia sendiri.
Kala itu lila dan ibunya pergi ke salah satu pasar tradisional di jalan kaliurang. Seperti biasa, tas kecil kesayangannya tak luput dari tangannya. Lila memang hobi membawa tas kemana-mana, tas itu kadang berisi hp, uang, jajan, dan mainan miliknya. But..jangan dibayangkan tas nya itu tas ala anak-anak. Justru tas ala emak-emak yang dia bawa.
Sayangnya, tidak semua orang bisa menyentuh tas itu bahkan membukanya.
“Ndak boweh !! ” katanya sambil merebut tas miliknya kembali.
Kebetulan lila belum bisa mengucapkan huruf L, alhasil huruf W lah yang keluar.
Nah, waktu itu lila digendong oleh ibunya, otomatis tas yang ia bawa berada dibelakang punggung ibunya. Selang beberapa waktu ketika berada di dalam pasar, tiba-tiba ia teriak dan menangis. Entahlah seperti apa tangisnya kala itu.
Ibunya pun lalu bertanya kenapa menangis, lalu dia berkata bahwa tasnya diambil oleh orang dari tangannya. Seketika itu juga, ibu nya mengecek keberadaan tas tersebut siapa tahu terselip di gendongannya. Nihil !!
Ya, tasnya hilang.
Bukannya panik atau sedih, ibu lila malah tertawa seraya menghentikan tangisnya lila. Sungguh berbeda ekspresi dengan lila. Lila yang amat sedih karena baru saja kehilangan uang, dan beberapa barang berharga miliknya. Jelas lah ibu lila tertawa, Lha isi tas nya lila itu memang ‘asli barang berharganya lila” yaitu : segepok uang ratusan ribu palsu bergambar tokoh kartun kesukaan lila, dan beberapa mainan. Bahkan mungkin ada kaos kaki nya lila waktu bayi kali ya..karena lila paling suka memasukkan kaos kaki bekas miliknya waktu bayi dulu.
He..he..he..Ya itulah !!
Ketika balita kecopetan mungkin si copet malah kebingungan…
Salah sasaran deh !!
(M.P.R., 2010)
******************************************************************************
To Lila..walo habis kecopetan tetep semangat ya dek…

Belajar dari Mutia

Untuk kesekian kalinya abinya mutia menceritakan tingkah polah putri kecilnya itu.
Abinya mutia adalah dosenku, sedangkan uminya mutia adalah seorang housewife berparas cantik nan anggun (that’s why abinya mutia fallin’ in love with her kali ya…) yang kebetulan juga 1 almamater dengan ku (hmm…inbreeding rupanya).
Mutia adalah gadis kecil lucu dan cerdas dengan selera humor yang cukup tinggi. Kata abinya sih dia punya bakat ngelawak.
wah-wah mutia, asal ndak niru-niru jayusnya abi ya nak…(he..he..)
Abinya mutia beberapa kali menceritakan pengalaman unik putri kecilnya itu kepadaku, yang punya pengalaman boleh jadi seorang anak kecil, hanya saja secara nalar melebihi pola pikir orang dewasa.
Ada 2 cerita unik tentang mutia.
^^ cerita1
Waktu itu abinya mutia mengajak kedua putrinya (mutia dan jasmine, kakaknya) pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Yang namanya pusat perbelanjaan pastilah ramai akan pembeli. Mutia dan kakaknya tentu sangat senang sekali. Mereka bisa bebas memilih jajan yang diinginkan. But, tidak demikian kenyataannya. Mutia justru selalu mengkonsultasikan jajan yang hendak ia beli kepada abinya.
“abi-abi..yang ini halal mboten bi ?”
“kalau yang ini bi ? halal mboten ?”
seketika itu juga, mutia menjadi pusat perhatian pengunjung pusat perbelanjaan yang berada disekitarnya..
subhanalloh…anak sekecil itu sudah bisa berhati-hati terhadap mudharatnya sesuatu yang masuk ketubuhnya.
saluuut cokluut untuk mutia…
two tumbs for her parent…
^^cerita ke2
Waktu itu uminya mutia hendak pergi ke warung untuk membeli sesuatu. Mutia dan kakanya tidak turut serta, alhasil mereka hanya nitip susu dan jajan ke uminya.
Uminya mutia akhirnya pergi ke warung dan ternyata susu yang dipesan oleh mutia tidak ada. Akhirnya uminya mutia membeli susu dengan merk lain.
Sesampainya dirumah, umi memanggil kedua buah hatinya seraya mengeluarkan susu dengan kemasan sachet yang baru saja dibeli. Dan tahukah apa komentarnya??
“Lho umi..kok tumbas susu ada tulisan NESTLE nya?”
“Itu kan punya’e yahudi mi..”
“Berarti ikut nyumbang yahudi mi..”
Si umi yang lupa akan status susu tersebut akhirnya menyadari kealpaanya dan meminta maaf.
Entahlah bagaimana kisah selanjutnya, yang jelas aura ‘kehati-hatian’ anak umur 5 tahun itu telah membuatku sadar bahwa ternyata aku kalah telak dengannya.
Mutia yang tahun ajaran baru besok akan sekolah di SD telah berhasil membuatku meningkatkan sensitifitasku terhadap apa-apa yang kubeli dan kumakan.
Kini…How about you ?

Lovin’ children : hall of fame nya anak-anak

Hmm..layaknya seorang seleb yang ingin dipuji dan dihargai, anak-anak ternyata memiliki kecenderungan itu juga.
Setiap anak bisa memiliki hall of fame, dimana kesuksesan-kesuksesan yang pernah ia raih baik dimasa lalu maupun yang baru saja ia dapatkan akan diingat dan dihargai. Ingat!! sekecil apapun itu. So, tidak lah bijak ketika penghargaan itu hanya ditujukan ketika anak-anak kita menjadi juara kelas maupun memenangkan suatu kejuaraan pada lomba yang diikutinya.
Dinding dimana penuh dengan piagam-piagam penghargaan mereka dipajang, dengan rak berisi piala-piala yang mereka menangkan, memang masih menjadi fokus utama hall of fame anak-anak, ‘dimata orang tua’ mereka tentunya.
Ada hal lain yang mestinya dapat dilakukan oleh para orangtua, misalnya saja penghargaan melalui cerita yang dikisahkan oleh para orangtua ketika sedang membuka album foto. Dengan mengingat ‘momen-momen menyenangkan’ dalam sejarah anak, sungguh itu akan membuat mereka semakin terpacu untuk berprestasi.
Para orang tua bisa kok dengan hanya memberikan semacam pujian tentang keberhasilan-keberhasilan yang pernah diperoleh anak-anaknya, misalnya saja :
” Ketika kamu sedang belajar berjalan, kamu sangat berani dan bersemangat seklai nak…Subhanalloh…entah sudah berapa kali kamu terjatuh, tetapi kamu selalu bangun dan mencoba lagi. Kamu adalah anak yang sangat gigih nak..kamu tahu bagaimana meraih sesuatu…. “
atau…
“Ketika kamu berusia 4 tahun, kamu berhasil naik ke puncak gunung-gunungan di taman bermain. Luar biasa! belum ada yang mengalahkan kamu nak…”
Mungkin kedua contoh itu tidak begitu mewakili ribuan hal yang pernah dicapai anak, hanya saja ketika dewasa, kombinasi bercerita dan menunjukkan foto bisa membangkitkan perasaan paling bersemangat. “Masa kini” setiap orang akan sangat dibentuk oleh proses ini, karenanya, hai para orangtua luangkan waktu Anda untuk menikmati aktifitas ini secara teratur. Jangan sampai momen-momen penting anak-anak kita terlewatkan begitu saja…
setiap detik adalah 1 hall of fame untuk anak-anak anda
so..pastikan there will be displayed a thousand hall of fame in your home..
-sembari menanti hujan reda-
ukhti avicenna

My Graduation is My ‘Mom’ Funeral

My Graduation is My ‘Mom’ Funeral

Nothing special!! Itulah yang kurasakan. Entah mengapa, sejak Mei 2008, tepatnya pasca ujian pendadaran tidak ada kebahagian menyeruak dalam dada perihal ceremonial bernama wisuda. Bersyukur sih iya, hanya saja euphoria tidak singgah lama dalam hati ini.

Ibu pogung sakit!! Perempuan berusia 70 tahun yang telah mengorbankan hari-harinya demi merawatku itu kini tergolek tak berdaya.

Miftah kecil, kala itu berumur 3 bulan. Dititipkan kepada kakak tertua bapak di sebuah desa bernama pogung lor. Alhasil, panggilan ibu tidak hanya berlaku pada ibu kandungku, tetapi juga pada ‘bude’ ku itu. Ibu pogung, begitulah aku memanggilnya. Beliau memang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Budeku itu kebetulan tidak memiliki putera, sehingga keponakan-keponakannya lah yang meramaikan rumahnya. Pakde (suami bude) sudah meninggal sejak aku kelas 1 SMA.

Awal Agustus 2008, Alhamdulillah akhirnya beliau berkenan juga dirujuk ke rumah sakit setelah tergolek lemah dirumah dengan perawatan yang terbatas. Jogja International Hospital (JIH) menjadi pilihan bude. Pagi itu juga, kuurus semua administrasi rumah sakit. Mulai dari mengantar ke JIH sampai dengan reserve kamar. Kutelepon ibuku untuk segera menyusul ke rumah sakit. Siangnya beberapa kerabat mulai berdatangan silih berganti hingga 1 pekan berikutnya.

Alhamdulillah pekan kedua Agustus 2008 bude sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dr Karina sudah acc memperbolehkan pulang. Makasih dok..soalnya budeku sudah tidak betah di rumah sakit (batinku). Sejak sepulang dari rumah sakit ternyata tidak memberikan efek yang baik untuk bude. Mungkin hanya rasa nyaman sudah kembali ke rumah yang beliau rasakan. Semoga rasa nyaman itu dapat membuatnya lekas baikan, pikirku kala itu. Silih berganti kerabat ku menunggui bude. Maklumlah, gelar aktivis masih kusandang saat itu sehingga tidak memungkinkan untuk dapat stay at home 24 hour. Alhasil jadwal jaga bak perawat di rumah sakit tercipta. Hari senin, jadwalnya bude A dan mbak B, selasa pakde C dan mas D dan seterusnya…

Pekan ketiga dan akhirnya pekan ke empat Agustus, kondisi bude semakin lemah. Segala sesuatu dilakukan di atas tempat tidur, kecuali mandi. Untuk mandi pun harus digendong dan dimandikan. Sungguh bukan seperti budeku yang kukenal. Budeku yang biasanya selalu nampak perkasa dan seolah tidak kenal lelah. Selalu sibuk!! Tidak pernah diam. Begitulah..dan terkadang aku malu dan iri karena semangatnya.

27 Agustus 2008, the day of my graduation.

Pagi-pagi sekali aku sudah dijemput oleh mas min. Mas min driver keluarga kami sekaligus guru driving ku…

Hari itu..no kebaya, no make up. Just gamis and toga. Simpel banget, dan itu yang kuinginkan. Dalam hati, sejujurnya tak tega juga meninggalkan bude yang semakin lemah itu. Dirinya bahkan sudah tidak merespon kami, bahkan ketika kusuapi beliau tidak meresponnya. So sad…

Graha Sabha Pramana (GSP) sudah penuh sesak oleh ribuan orang. But…tetap saja nothing special…

Aura GSP masih terkesan biasa saja bagiku, walau mungkin bagi sebagian besar orang merupakan tempat yang bersejarah saat itu. Akhirnya, sesi demi sesi terlewati sudah, dan saatnya untuk syukuran di kampus peternakan. Uluran ucapan selamat mengalir dari rekan-rekan, adik angkatan, dan juga dosenku. But…pikiranku masih ada dirumah. Ya!! Apa kabar bude di rumah ? Tenang mift…Allah adalah sebaik-baik penjaga kok…

Sungguh graduation ceremony ini tidak memberikan kesan mendalam bagiku. Semuanya serba biasa saja.

Alhamdulillah sore itu, sampai juga akhirnya di rumah. Ramai, begitulah kondisi rumah. Bersyukur sekali rasanya punya kerabat dan tetangga yang teramat peduli dengan budeku. Mereka menunggui dan merawat bude.

Sore telah berganti malam…

Pukul 22.00, pintu diketuk oleh seseorang. Ternyata jamaah masjid Al Kariim Pogung Lor, hendak Yasinan dirumah. Dan malam itu, rumah kami penuh dengan lantunan doa dan dzikir walau tidak ada respon sama sekali dari bude.

28 Agustus 2008, the day of my ‘mom’ funeral

Ba’da shubuh ibuku pulang karena mengajar pagi.

I’m alone…just dengan bude yang lemah dan mas par. Mas par adalah khadimat kami untuk mengurus kebun dll.

Pagi itu tiba-tiba mas par panik, sembari memanggil-manggilku. Senada dengan mas par, aku juga panik ketika melihat kubangan darah ditempat tidur bude. Bude bleeding !! Kusuruh mas par untuk memanggil mbak min (tetanggaku) yang sehari-hari membantuku mengurus bude. Sembari menunggu mbak min datang, kubersihkan kubangan darah itu. Sangat banyak, anyir dan busuk baunya. Pasti pendarahan di lambung bude yang luka, pikirku. Alhamdulillah, mbak min datang. Dengan sigap beliau membantuku mengganti baju bude. Ku lap bagian-bagian tubuh bude yang penuh darah dan tak terasa, air mata ini menetes juga. Sungguh aku tidak tega melihatnya…

Kutelepon ibu dan bapak untuk segera datang, barangkali beliau berdua punya solusi.

Selesainya mengganti baju, pampers, dan lainnya mas par menggendong bude ke kamar dan tempat tidur yang baru. Kucoba berinteraksi dengan bude…tetapi tetap saja tidak ada respon. Kusuapi susu, dan Alhamdulillah beliau masih dapat menelan dengan lembut, walau tanpa respon. Kucoba lagi untuk mengajaknya berdzikir dan Alhamdu
lillah sepertinya beliau merespon dengan gerakan bibir, walau matanya tetap terpejam. Lagi, dan lagi kucoba mengajaknya ber istighfar. Kudengar, nafas bude mulai berat dan agak tersengal. Seperti orang mengorok. Tapi entahlah…kutepis pikiranku yang mulai macam-macam.

Ibu dan bapak akhirnya datang…Ibuku langsung muntah karena tidak kuat dengan bau busuk darah yang masih terasa itu. Akhirnya…ibuku menggantikanku menjaga bude dan aku mencuci semua kain yang penuh dengan darah itu. Ada speri, baju, jarik, dll. Kucoba untuk kuat menahan bau itu…Bismillah…ini adalah bentuk birrul walidain mu mift…

Ibuku masih muntah-muntah di kamar mandi. Akhirnya, bapak yang menjaga bude. Mas par sudah sibuk dengan kerjaannya di kebun depan rumah, menyapu dll, sedangkan aku masih mencuci kain-kain bude yang terkena darah tadi. Tak beberapa lama, bapak berteriak memanggil-manggil nama bude.

Yu..mbakyu…yu..teriaknya. Secepat kilat kutuju kamar bude. Kulihat bapak agak gemetar sembari memanggil nama bude dan menempelkan tangan didepan hidung bude. Kuikuti apa yang dilakukan bapak, dan benar…tidak ada lagi hembusan nafas. Tapi badan bude masih anget. Aku berlari menuju rumah tetanggaku yang takmir masjid, dan kebetulan putrinya seorang apoteker. Kusuruh mereka ke rumah, dan benar…Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Bude sudah diambil kembali oleh Sang Pencipta.

Tangis ini pecah juga…hanya sebentar memang, dan tangis ini kembali pecah ketika kuingat wajah tirusnya…sampai saat ini.

27 Agustus 2008, my graduation

28 Agustus 2008, my mom / bude funeral

Genap 4 tahun sudah aku dan engkau tinggal berdua, dan selama itu juga engkau menemaniku menempuh pendidikan sarjana. Bahkan menungguiku sampai aku wisuda, barulah engkau pergi untuk selamanya…

ibu pogungku… miss u much…