Category Archives: Parenting

Three Cups of Tea

Inspiring book !
Emm… apa jangan2 Indonesia Mengajar juga terinspirasi dari ini yaa… hehe. Piss ya Prof. Anies Baswedan ^_____^v

“The first time you share tea with a Balti, you are a stranger. The second time you take tea, you are an honored guest. The third time you share a cup of tea, you become family, and for our family, we are prepared to do anything, even die. Doctor Greg, you must take time to share three cups of tea. We may be uneducated but we are not stupid ” (Haji Ali cit. Greg Mortenson).

Saya beli buku ini baru pertengahan tahun lalu. Sengaja ke Periplus Malioboro Mall untuk hunting. Segera saja setelah saya beli langsung deh di ‘lahap’. Nah, setelah baca, berasa useless banget dehjadi manusia 😦 😦 *cengeng mode:ON*

Buku ini seri young reader nya Three Cups of Tea. Dilengkapi pula dengan foto-foto yang full colour. Bercerita tentang perjuangan seorang ‘relawan’ di bidang pendidikan bernama Greg Mortenson yang awalnya tersesat dan hampir meninggal saat pendakian gunung K2 dan ditolong oleh penduduk muslim setempat (Korphe) di kaki gunung yang terletak di Pakistan tersebut.

Berawal dari secangkir teh yang selalu disajikan untuk menghormati tamu yang datang, akhirnya Greg Mortenson berjanji akan kembali suatu saat nanti dengan misi kemanusiaan. Awalnya, apa yang diucapkan olehnya tidaklah diambil hati oleh penduduk setempat, namun tak disangka Greg kembali juga dengan perjuangan yang luar biasa.

Jatuh bangun mulai dari sulitnya mengumpulkan donasi untuk membangun sekolahan sampai harus LDR dengan isterinya bahkan sampai anaknya lahir pun ia lakukan. Dan hasil perjuangannya bersama dengan para penduduk muslim di Pakistan tadi tidaklah sia-sia. Sebuah desa yang awalnya sama sekali kurang memperhatikan pendidikan kini telah menjelma menjadi kawasan orang-orang terdidik, bahkan dengan mudahnya donasi terhimpun untuk membangun sekolah-sekolah baru. bahkan sampai ke daerah konflik seperti Afghanistan.

Huffhh… envy dan malu juga sama Mr. Greg. Saya yang ‘mengaku’ sebagai orang yang ‘agak’ peduli dengan pendidikan bahkan sama sekali belum bisa berbuat apa-apa. Berasa useless !!

Untuk cerita lengkapnya silakan saja baca sendiri yah.
Seru dan haru !

*****
Detail information.
Title: Three Cups of Tea (Young readers version)
Authors : Greg Mortenson, David Oliver Relin
Publisher: Penguin Audio; Unabridged edition (January 22, 2009)
Language: English

Atau search di, http://www.threecupsoftea.com/

Segitu dulu ya share nya. Sudah lama ingin dishare tapi baru sempat saat ini dan malah bukunya dah pindah tangan (dipinjam belum dibalikin) 😦 😦 😦 *curcol*

Cheers,
Mifta Pratiwi Rachman
Feb 2012

Jumpalitan Menjadi Ibu

Strongly recommended book for Mom&Dad

Buku karangan Mbak Sari Meutia dan kawan-kawan ini menceritakan tentang kisah bahagia, lucu, mengharu biru, dan seabreg kisah unik lainnya. Total nya sih ada 19 cerita dengan masing-masing sudut pandang penulis.

Mengutip perkataan Mildred B. Vermont: “Being a full time mother is one of the highest salaried, since the payment is pure love”.

Qeqeqe, dan itu tertuang dalam cerita di buku ini.
Eits, tapi jangan dilihat dari judul nya yang kelihatan ‘menakutkan yaa. Saya baru baca cerita pertama saja sudah sakit perut sendiri alias nahan ketawa…
Walaupun lucu dan mengharu biru, setiap kisahnya memiliki pesan dan arti tersendiri. Setidaknya bagi saya yang calon ibu, dimana segala idealita terkadang harus berbenturan dengan realita yang ada. Ahh..saya hanya ingin berucap,

“segera miliki buku ini. baca dan renungkan”

October 2011
Mifta P Rachman.

Bright Mom

Buku Bright Mom terbitan Gema Insani Press ini karangan my fave author, she is mbak Ifa Avianty. Itu tuh yang ngarang novel Facebook on Love. I dunno ya, kenapa saya selalu rekomen dan beli buku ini untuk ngasih gift ke teman yang Milad atau nikahan…But, satu yang saya tahu yaitu buku ini bagus bangettttt-ngett. Nah buat emak-emak, calon emak, dan bapak-bapak pecinta emak atau anak-anak yang sayang emaknya..lekas beli–baca–beri buku ini. ^______^v

Buku Bright Mom ini memberikan banyak tips dan cerita mengenai peran ibu ditengah kehidupan saat ini. Kehidupan yang penuh dengan tantangan karena adanya dekadensi moral yang menjangkiti seluruh lapisan masyarakat. Mbak Ifa membagi topik dalam buku ini menjadi 7 Bab.

Chapter 1. Sebelum menjadi ibu. Yang terdiri dari 3 sub chapter: Merencanakan ibu bahagia, The Pretty Mom, dan The Supporting Team (Not just the cheers squad)

Chapter 2. Menjadi ibu seutuhnya. Terdiri dari 4 sub chapter: There’s a little creature inside me, Baby blues and breastfeeding-baby treatment, Happy mom happy baby, When life is not easy as i thought.

Chapter 3. Ibu yang cerdas, sekarang atau tidak sama sekali. Ada banyak sub chapter…seperti: The Golden years, Anakku suka pilih-pilih makanan, Anakku suka masturbasi, Anakku terlalu akrab dengan TV, Waktu berkualitas itu kapan sih ?, Smart dicipline itu apa sih ?. Mengajarkan anak memahami budaya (cultural understanding), Bermain sambil bekerja, Sudah gede kok masih mengompol ?, Anak sempurna atau anak bahagia ?, The early schooldays, Aku bangga deh sama mama, Menuju kedewasaan: be my partner mom.

Chapter 4. 1st Queen Lessons. Yang isinya meliputi: The Queen and her soulmate, HOney you’d become a dad soon, He’s your dad kids, he’s the best !, The charming queen, When we’re grown up.

Chapter 5. 2nd Queen Lessons. Chapter ini berkisah tentang aktualisasi diri seorang Mom. Ada Me and My community, Me and ‘Me Time’, Me and my career, Me and My deepest mind.

Chapter 6. 3rd Queen Lessons. Berkisah tentang The Queen and He God.

Chapter 7. The Tough Bright Mom (Ibu cerdas yang kuat).

Buku ini sangat mudah dicerna dan difahami apalagi tulisannya khas mbak Ifa bangettt. Silakan membaca.
and,
Five stars for this Book !

Bright Mom by Ifa Avianty
Penerbit Gema Insani Press, 2009
192 Halaman.

Menstimulasi Kecerdasan Anak Sejak Dalam Kandungan

Pekan lalu, saya iseng jalan-jalan ke Gramedia, eh nemu buku ini di jajaran buku-buku Psikologi ^____^v. Sebenarnya sudah sejak tahun lalu ngincer buku ini setelah penulisnya nge-tag iklannya di wall teman, dan baru kesampean beli pekan lalu.

Buku setebal 206 halaman ini dicetak Mei 2010 dan berisi tentang Stimulasi kecerdasan untuk anak sedari dini (dalam kandungan). Ada delapan chapter, yaitu:

Chapter 1 (Stimulasi satu). Bismillah
Stimulasi 2. Perjuangan panjang pejuang-pejuang kecil kita di rahim bunda
Stimulasi 3. Cerdaskan si buah hati meskipun belum terlahir ke dunia
Stimulasi 4. Saat ia lahir ke dunia
Stimulasi 5. Makanan si kecil
Stimulasi 6. Merangsang perkembangan otak anak (pendidikan pasca lahir)
Stimulasi 7. Perkembangan jiwa buah hati kita
Stimulasi 8. Kesehatan buah hati

Silakan saja dibeli, ya.
Saya beri 5 bintang untuk buku ini.

Agar Hadiah dan Hukuman Efektif (2008)

Mana yang harus didahulukan, hadiah atau hukuman ?
Mana yang harus lebih banyak diberikan, hadiah atau hukuman ?
Apa akibatnya jika kesetimbangan hadiah-hukuman tidak diperhatikan ?
Bagaimana cara menghukum yang efektif ?
Bagaimana dengan anak yang belum mau berbuat baik jika tanpa upah hadiah ?
Bolehkah memberi uang sebagai hadiah ?

Masih ada begitu banyak pertanyaan seputar efektifitas metode pemberian hadiah dan hukuman sebagai metode pendidikan anak. Memberikan hadiah kepada anak merupakan kebaikan, begitu pula dengan menjatuhkan hukuman untuk anak. Jadikan hadiah-hadiah itu bukan menjadi bumerang bagi kita orangtua dan jangan sampai hukuman-hukuman itu melukai hati anak-anak kita.

Selebihnya terserah anda. Read this book first. Asli bagus ! ^_____^v

Agar Anak Asyik Belajar (2008)

Anak anda malas belajar ?
atau bosan mengikuti pelajaran sekolah ?
Sering mengantuk ketika belajar ?
Tidak mau pergi mengaji ?
Pandai menemukan beribu alasan untuk menunda jam belajar dan sesegera mungkin mengakhirinya ?

Banyak orangtua meresahkan ‘kemasalan’ putra-putrinya untuk belajar, dan menganggapnya sebagai alasan nilai-nilai rendah yang mereka peroleh. Namun, tak ada salahnya kita, para orangtua, berhenti untuk terus menerus menyalahkan mereka, karena belum tentu kita tidak punya andil dalam menyulut kemalasan belajar mereka. Dan belum tentu nilai rendah mereka disebabkan ketidakmampuan mereka dalam belajar.

Lebih baik introspeksi diri, sudahkan benar cara kita memotivasi anak untuk belajar ? Sudahkah kita terapkan kreatifitas untuk merancang suasana belajar yang menyenangkan untuk mereka ? Ataukah selama ini kita lebih banyak memaksa mereka untuk belajar, demi memenuhi ambisi kita untuk membanggakannya di depan orang lain ?

Jujurlah wahai orangtua…..^______^v

“Tidak ada kata berhenti untuk belajar. Teruslah Belajar Dari Anak, Bersama Anak dan Untuk Anak”

Melipatgandakan Kecerdasan Emosi Anak (2006)

Buku terbitan Pustaka Inti ini saya khatamkan kira-kira pada pertengahan 2009 lalu. Menarik untuk disimak dan akhirnya dipraktekkan ^____^v.

Anak bukanlah orang dewasa yang bertubuh kecil. Anak memiliki dunianya sendiri yang khas, yang berbeda dengan dunia orang dewasa. Sebuah dunia tempat mereka menumbuhkembangkan kualitas kepribadian dan kecerdasan
emosional serta ketrampilan hidup yang sangat penting kelak ketika mereka dewasa.

Dunia di mana mereka akan belajar nilai-nilai kehidupan dari orang-orang terdekat di sekitar mereka. Perlakuan kita terhadap jiwa dan dunia kanak-kanaknya terutama di lima tahun pertama usia mereka, menjadi pondasi bagi
kehidupan mereka kelak.

Masa-masa keemasan pembentukan kecerdasan emosi anak inilah yang harus dimanfaatkan orangtua dengan optimal. Buku ini sangat tepat dijadikan panduan demi melipatgandakan kecerdasan emosi mereka, karena memberikan tips-tips praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan interaksi sehari-hari kita dengan buah hati-buah hati tercinta kita. Buku ini terdiri dari lima chapter yang disetiap chapter-nya menyimpan rasa penasaran tersendiri jika terpotong-potong membacanya.

Pengen tau bagaimana berinteraksi dengan anak dalam dunia lima tahun-nya ? maka, baca Chapter 1
Trus, penasaran dengan pengertian keluarga untuk anak ? see on chapter 2 deh…
Nah kalo pengen ngintip tentang kecerdasan emosi ala Nabi, bukalah Bab 3
Di Bab 4 ada apa ? Wah ternyata kenalan dengan tahapan dalam pencerdasan anak.
The last but not least, ada bab 5 nih sebagai gongnya, all about kecerdasan emosi bisa kita simak disini…
Daripada masih di ‘awang-awang’ silakan saja dibaca buku lengkapnya…^___^v

*Our children aren’t a doll, they are not as perfect as Barbie or Ken
So, just let them growns up with their hopes and imagination
Someday they will turn away from your security of their childhood
and ready to face their unknown way of adulthood

— MPR 2011 —

Marah Penyebab Kebodohan: dari buku Ayo Marah (2010)

Seorang anak yang sedang menjadi obyek penelitian, dipasangkan kabel-kabel di kepalanya, guna mendeteksi aktifitas otaknya supaya bisa terlihat di layar monitor. Si anak diijinkan untuk bermain-main sekehendak hatinya. Ketika sedang bermain itulah, terlihat di monitor, gambar scan otaknya yang terlihat berpendar bercahaya. Itulah pertanda bahwa sedang terjadi reaksi aktifasi di dalam otaknya. Pendar cahaya tersebut menggambarkan bahwa otak sedang bekerja, membangun hubungan antara satu sel dengan sel yang lain. Proses inilah yang membuat otak semakin pintar.

Suatu saat, di tengah-tengah keasyikannya bermain, tiba-tiba si anak memegang sebuah benda berbahaya. Spontan sang ibu yang berada tak jauh si anak serta merta berteriak kaget. Teriakan sang bunda begitu kerasnya, mengagetkan si anak, membuatnya menghentikan mainannya! Dengan wajah penuh kekagetan ia pun memandang wajah ibunya tak mengerti. Raut mukanya sedikit ketakutan.

Dengan masih berteriak ibu memintanya untuk melepaskan benda yang ada di tangannya. Suaranya terdengar keras dan memaksa, ditambah sedikit terdengar ketakutan. Wajah si anak masih tegang, ronanya memerah dengan mata berkaca-kaca menahan takut. Ia pun melepas benda berbahaya yang semula terpegang oleh tangannya.

Monitor komputerlah yang kemudian menyimpan bukti. Betapa telah terjadi sebuah perubahan drastis ketika otak anak bereaksi ketakutan akibat mendapatkan kemarahan dari ibunya. Gambar scan otak yang semula tampak berpendar, spontan terlihat terjadi pemadaman pendar cahaya di beberapa bagian. Para ahli menyimpulkan bahwa pada saat itulah terjadi proses pemutusan hubungan antar sel, diakibatkan otak mengalami ketakutan dan stres akibat menerima kemarahan. Hal ini sama saja artinya dengan terjadinya proses pembodohan, karena memutuskan hubungan sel otak yang telah tersambung, sama artinya dengan mematikan beberapa bagian potensi otak anak.

Dikutip dari “Ayo Marah: Buku Komplit Manajemen Marah”
Karya Irawati Istadi

Mengenalkan Allah dengan Cinta (2008)

Buku ini adalah bentuk Diary of love Perjalanan Cinta Bunda Menghadirkan Allah di hati Anak.

Buku ini benar-benar buku lezat yang pantas untuk disantap tiap orang yang punya mimpi melahirkan generasi bertitel ‘rabbani’. Inspiratif banget ! sampe-sampe saya ngebayangin bakal meniru dan memodif hal-hal yang ada di buku itu dalam mendidik anak.

Buku duet maut (eh ndak ding !), lebih tepatnya duet cantik ini berisi pendekatan spiritual orang tua terhadap anak dalam rangka mengenalkan anak pada Sang Pencipta. Baik teh Ninih maupun Bunda Ira menerapkan sistem ‘cs-an’ antara ibu dan anak sehingga ibu bisa menjadi teman untuk anaknya. Di buku ini kedua penulis banyak berbagi pengalaman pribadinya dalam menghadirkan Allah disetiap gerak langkahnya.

Dalam buku ini kedua penulis juga sharing beberapa metode yang dapat diterapkan oleh para orangtua untuk bisa dekat dengan anak dalam rangka mendekatkannya dengan Allah (secara tidak langsung) dan efeknya dapat diterima oleh si anak dengan sebaik mungkin.

Satu hal yang akan sedikit-banyak saya share adalah mengenai karakter yang berbeda satu sama lain dan itu dipengaruhi oleh pengalaman spiritual sang ibu sewaktu mengandung.

Misal saja sewaktu Teh Ninih mengandung putri kelimanya yang bernama Ghefira, saat teh Ninih mengandung Ghefira kebetulan beliau sedang menunaikan umroh dan saat Ghefira berusia setahun ia juga ikut umrah dan ikut Thawaf. Ghefira ternyata memiliki pemahaman tauhid yang baik seperti pemahamannya terhadap suatu hal dengan pertimbangan ke depan. Kalau ada masalah, Ghefira selalu ikhlas menghadapinya dan menyatakan bahwa itu sudah takdir Allah. Ternyata pengalaman Teh Ninih saat mengandung Ghefira dan ketika Ghefira kecil diajak umrah membekas dalam dirinya dan menancapkan kekuatan ruhiyah yang besar.

Kemudian kalau dari Bunda Ira, beliau justru bercerita mengenai pengalaman dirinya sebagai ‘korban’ (tapi korban yang baik, he..he..) dari pengalaman spiritual ibundanya.
Jadi ibu nya Bunda Irawati Istadi sering bilang dan heran mengapa putrinya (Bunda Ira) memiliki kecenderungan yang berbeda dengan kakak-kakanya (bunda ira putri bungsu_red). Bunda Ira memiliki kecenderungan mencintai dunia agama lebih daripada yang lain (saudara-saudaranya). Bunda Ira jauh lebih senang untuk pergi ke masjid dan menghadiri kajian-kajian sejak kecil, dan sampai dengan beliau menikah pun aktivitas dakwah masih tetap dijalaninya. Kemudian ibu nya bunda Ira menerka bahwa ada kemungkinan ketika ibu nya mengandung bunda Ira, beliau lebih banyak melakukan perenungan-perenungan spiritual, dan kebetulan beberapa kai sempat berziarah ke makam Sunan Giri di gresik. Kebetulah ibu nya bunda Ira dibesarkan di keluarga non muslim dan belum mengenal ajaran-ajaran islam, sehingga kapasitas ibadahnya tidak sampai seperti dengan memperbanyak mengaji Al Quran dll. Namun bagi orang sekapasitas pengetahuan ibunya bunda Ira, perenungan-perenungan spiritual pun sudah cukup memberi bentuk janin yang sedang beliau kandung. Maka jadilah anak seperti bunda Ira ini..^__^v

Ternyata untuk mengenalkan Allah itu memang harus dimulai ‘bukan’ setelah anak itu lahir. Bahkan sebelum anak itu lahir pun harus diperhatikan. Ayoo..ayo..yang sedang hamil, harus banyak-banyak dzikir dan mendekat selalu pada Allah.

Selain mengenai pengaruh pengalaman spiritual sang ibu sewaktu mengandung terhadap akhlaq anaknya, masih banyak lagi cerita dan ulasan yang menarik seputar cara mengenalkan Allah dengan cinta. Buku ini saya beri 5 bintang karena telah menginspirasi saya.

Best Mom wanna be deh jadinya ^____^v

Ayo Marah

Review part 2

” Haruskah Marah “

Kemarahan adalah satu kondisi yang muncul sebagai respon dari ketidaksukaan seseorang terhadap sesuatu hal. Respon marah ini bisa jadi memberikan dampak positif untuk menemukan solusi permasalahan. Namun bisa jadi justru menjadi penghalang menemukan solusi atau bahkan bisa jadi membuat permasalahan menjadi semakin rumit. Seseorang harus peka untuk menilai, apakah di saat sebuah permasalahan terpicu dan timbul keinginannya untuk marah, perlukah marah? Maka segera pertimbangkan, apakah kemarahannya nanti akan mempermudah menemukan solusi atau justru sebaliknya.

Perhatikan gaya dan kebiasaan seseorang yang sedang marah. Terkadang ada yang memiliki kebiasaan membanting-banting apapun barang yang ada di sekelilingnya. Hal ini terjadi karena begitu kemarahan menguasai emosinya, spontan ia tak bisa lagi mengendalikan tangan dan keinginan untuk merusak segala sesuatu. Tentu saja, cara marah seperti itu tak memberikan solusi permasalahan. Alih-alih merusak dan menghabiskan apapun barang yang ada di dekatnya. Bukan keuntungan yang didapat, justru keburukan.

Kita ambil contoh pada kasus di bengkel ini. Seseorang marah karena mobilnya mogok. Sementara tukang bengkel sudah bekerja lebih dari dua jam tanpa berhasil mengatasi permasalahannya. Jika kemudian ia memarahi si tukang bengkel, apakah lantas itu bisa membuat permasalahan mobilnya menjadi teratasi? Bisa saja hal itu terjadi, jika letak permasalahannya adalah karena si montir bekerja asal-asalan, kurang serius, dan baru beralih menjadi lebih serius setelah menerima kemarahan. Jika ini yang terjadi, pantas bagi kita untuk marah.

Tetapi jika permasalahannya adalah karena hari sudah gelap dan tak ada lagi bengkel yang buka. Sementara montir yang telah serius mencoba memperbaiki mesin tak bisa berbuat lebih jauh karena peralatan yang rusak tak bisa dibeli. Apakah dengan melampiaskan kemarahan terhadap si montir lantas bengkel yang menjual peralatan montir yang sedang ia usahakan bisa menyediakan peralatan tersebut?

Jika manfaat dari melampiaskan kemarahan belum lagi bisa dijaminkan, bahkan ternyata dampak negatifnya sudah lebih terlihat dan terasa. Satu yang paling utama adalah dampak negatif dari munculnya emosi negatif tersebut. Kemarahan, membuat seseorang tak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Otak memicu gerak fisik yang bersifat destruktif, merusak.

Kemarahan membuat saraf menjadi tegang dan darah naik ke otak, sehingga memicu cara berpikir pendek dan sempit. Itu sebabnya mereka yang sedang marah seringkali tak bisa memberikan keputusan yang bijak. Segalanya bersifat subyektif, jangka pendek dan emosional. Bahkan, kemarahan bisa memicu persoalan lebih lanjut dan menjadi lebih rumit.

Dikutip dari Ayo Marah: Buku Komplit Manajemen Marah – Irawati Istadi (Trainer Parenting Nasional)

Ayo Marah

Review part 1

Kebiasaan kita memarahi anak ternyata memiliki efek lain yang tak kalah hebat. Harus diterima kenyataan bahwa ternyata penyakit marah orangtua akan menular kepada anak. Mau tak mau, disadari atau tidak, inilah akibatnya. Anak akan mencontoh respon kemarahan yang ditunjukkan orangtua, walaupun pada saat kejadian mereka hanya mampu terdiam dan menangis ketakutan.

Pepatah mengatakan, jika Ayah marah kepada Bunda, Bunda akan marah kepada anak. Selanjutnya anak akan marah kepada adiknya, dan si adik pun marah kepada si kucing. Ini sekadar pengibaratan, bahwa siapapun yang menerima kemarahan, akan terdorong untuk menyalurkan hal yang sama kepada siapa saja yang lebih lemah darinya.

Sebuah survey dilakukan pada sekelompok orangtua dan ditemukanlah bahwa mereka mendidik anaknya dengan kebiasaan marah dan memukul. Ternyata lebih dari 50 % dari orangtua pemukul tersebut adalah mereka yang mengalami pemukulan dan kemarahan serupa dari orangtuanya di kala mereka kecil.

Dikutip dari Ayo Marah – Buku Komplit Manajemen Marah karya Irawati Istadi
Lebih lengkapnya silakan beli dan baca bukunya saja ya ^__^